USAHA MANUSIA ( KASB ) MENURUT ASY’ARIYAH

Posted: April 12, 2012 in cogito ergo sum

PENDAHULUAN

Aliran Asy-ariyah adalah suatu aliran yang muncul sebagai reaksi terhadap paham theology Islam yamg telah mendahuluinya, yaitu Mu`tazilah. Asyariyah diambil dari nama pendirinya yaitu Shaikh Abu Hasan Ali al Asy`ari. Sedang sebagai penganut sunnah Nabi dan I’tiqad para jemaahnya, aliran Asyariyah ini juga di sebut sebagai aliran ahlussunnah Wal-jamaah, atau yang lebih dikenal dengan istilah “Sunny”.[1]

Sebelum mendirikan madzhab ini, al-Asy’ary menganut faham Mu’tazilah tetapi hanya sampai ia berusia 40 tahun, setelah itu, ia mengumkan di hadapan jamaah masjid bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham mu’tazilah dan membeberkan keburukannya.[2] Al-Asy’ary meninggalkan faham mu’tazilah adalah pengakuan Al-Asy’ary telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW.[3]

Formulasi pemikiran Al-Asy-‘ary, secara esensial antara formulasi ortodoks ekstrim di satu sisi dan mu’tazilah di sisi lain. Dari segi etosnya, pergerakan tersebut memiliki semangat ortodoks. Aktualitas formulasinya jelas menampakkan sifat yang reaksional terhadap mu’tazilah, sebuah reaksi yang tidak dapat dihindarinya.[4] Di antara pemikira-pemikiran teologis Al-Asy’ary yang terpenting adalah sebagai berikut:

  1. Tuhan dan sifat-sifatnya
  2. Kebebasan dalam berkehendak (Free-Will)
  3. Akal dan Wahyu dan Kreteria Baik dan Buruk
  4. Qadimnya Al-Qur’an
  5. Melihat Allah
  6. Keadilan
  7. Kedudukan orang berdosa[5]

Tetapi yang akan kita bahas hanya satu yaitu kasb / usaha manusiA yang disini disebut free will.

USAHA MANUSIA ( KASB )

Menurut Al-Asy`ari, perbuatan manusia tidak diwujudkan oleh manusia itu sendiri., seperti diciptakan oleh Tuhan. Perbuatan manusia meskipun secara hakiki dimiliki oleh Tuhan, tetapi manusia memiliki kasb ( perolehan/usaha ) untuk dapat menggunakan perbuatan itu,[6] sehingga ia menjadi bertanggung jawab atas perbuatan tersebut. Jadi, secara majasi manusia melakukan perbuatan sesuai dengan daya yang diberikan oleh Tuhan. Tanpa itu manusia tidak bisa apa-apa. hanya mengusahakan apa yang telah diberikan Tuhan.

Asy`ari juga bertanggungjawab atas doktrin kasb ( Usaha Manusia ). Dia membedakan antara kemampuan untuk berbuat, yaitu mencipta atau menghasilkan, atau mengubah wujud, dan kemampuan untuk menghendaki yang sama.

Mereka menyangkal adanya kemampuan bertindak kepada manusia  dengan dasar hanya Tuhan yang mempunyai kemampuan tersebut. Manusia hanya berkehendak, tetapi Tuhanlah yang menentukan objek yang dikehendaki. Manusia mendapat manfaat atau keburukan dari suatu kejadian bukan karena dia melakukannuya, tetapi karena ia menghendakinya.[7]

Kakuasaan mutlak Tuhan atas alam semesta ini, hak penciptaan-Nya atas seluruh kejadian, keadilan-Nya, dan tanggungjawab manusia ( yang ditegaskan Islam) dengan demikian selaras.

Doktrin kasb Al-Asy`ari sesuai dengan pandangan modern tentang realitas sebagai system tertutup yang bebas dari kendala kausal. Pandangan ini juga sesuai dengan pandangan tentang perbuatan manusia yang tak lebih daripada intervensi  yang membelokkan aliran kausal dari satu efek ke efek lain yang dipilih manusia.[8]

Kalau dalam benak kita terlintas pertanyaan apakah manusia memiliki  kemampuan untuk memilih, menentukan, serta mengaktualisasikan perbuatannya? jika Al-Asy`ary, mereka berpendapat  bahwasannya antara khaliq dan makhluk adalah berbeda. jika kholiq adalah pencipta yang mampu menciptakan segala sesuatu termasuk keinginan  manusia. jika makhluk yang disini mereka menyebutnya muktasib adalah yang mengusahakan sendiri usaha/perbuatannya[9]. jadi, menurut mereka meskipun manusia mempunyai usaha tapi tetap Tuhanlah yang berkuasa menentukan dan memberikan usaha tersebut.

Efek dari paham ini adalah bahwasannya manusia bersikap pasif dalam perbuatan-perbuatannya.[10] Argumen Asy-ari untuk membela keyakinannya adalah firman Allah:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ {96} (سورة الصافات: 96)

Artinya :

“Tuhan menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. “

(Q.S. Ash-Shaffat [37]: 96)

Wa ma ta’malun pada ayat diatas diartikan Al-Asy’ari dengan apa yang kamu perbuat dan bukan apa yang kamu buat. Dengan demikian, ayat ini mengandung arti Allah menciptakan kamu dan perbuata-perbuatanmu. Dengan kata lain, dalam faham Asy’ari, yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia sebenarnya adalah Tuhan sendiri.[11]dengan kata lain manusia sangat lemah tanpa daya dan kesempatan dari Tuhan.

Pada prinsipnya, aliran Asy’ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya. Allah menciptakan perbuatan untuk manusia dan menciptakan pula -pada diri manusia- daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan disini adalah ciptaan Allah dan merupakan kasb (perolehan) bagi manusia. [12] Dengan demikian kasb mempunyai pengertian penyertaan perbuatan dengan daya manusia yang baru. Ini berimplikasi bahwa perbuatan manusia dibarengi oleh daya kehendaknya, dan bukan atas day kehendaknya.

KESIMPULAN

 

Paham Kasb Asy`ariyah sebagai berikut, pada intinya adalah, manusia   hanya menjalankan apa yang telah Tuhan  beri atas kesempatan. dan manusia hanya bisa mengusahakan ketentuan Tuhan saja

Tuhan sebagai Kholiq berkuasa atas segala seuatu, termasuk yang berkenaan dengan nasib dan apa yang diusahakan manusia, dalam hal ini kasb manusia di dunia dan ganjarannya di akhirat.

PENUTUP

 

Alhamdulillah, dengan sedikit pengetahuan kita tentang Asy`ariyah tersebut, maka kita tahu harus bagaimana menempatkan kepercayaan kita dan mungkin dapat mengubah wacana kita tentang Asy`ariyah serta sedikit pengetahuan  tentang apa yang ada di dalamnya

Dengan hadirnya suatu paham ini, maka satu hijab pun terbuka sudah. satu aliran islam telah terkuak, tinggal bagaimana kita sebagai seorang muslim yang bena-benar ingin mencari tahu kebenaran menempatakan pamahaman kita.

Bukan berarti terkenalnya orang adalah yang benar, tetapi lebih dari itu adalah yang tepat bagaimana orang itu mengikuti jejak dan Sunnah Rasulullah

dengan berkembangnya dan makin maraknya aliran yang ada diIndonesia, maka lebih baik untuk kita berhati-hati dalam setiap langkah.

 


[1] Drs. Sudarsono, SH. M.Si, Filsafat Islam (Rineka Cipta, Jakarta, Agustus 2004) cetakan kedua hlm.10.

[2] Dr. Abd. Rozak, M.Ag. dan DR. Rosihan Anwar, M.Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia,Bandung, 2006, hal.120.

[3] Jalal Muhammad Musa, Nasy’at Al-asya’irah, wa tathawwuruha, Dar Al-Kitab Al=Lubani,Beirut, 1975, hlm.120.

[4] Ahmad amin, Dhuha al-Islam, Dar Al-Misriyah, Kairoh, 1946, hlm.121.

[5] Dr. Abd. Rozak, M.Ag. dan DR. Rosihan Anwar, M.Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia,Bandung, 2006, hal. 121-124.

[6] Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI Press,Jakarta, 1986, hal. 106

[7] Ibid, hal 105

[8] Ensiklopedia Islam,  hal. 324

[9] Abu Hasan bin Ismail Al-Asy`ari, Al-Ibanah An Ushul Ad Diyanah, Hyderabat,Deccan, 1903, hal.9,

[10] Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI Press,Jakarta, 1986, hal. 107

[11] Ibid, hal. 106

 

[12] Al-Hamid, op. cit., hlm. 279.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s