banyak para orang tua yang memberikan peringatan tentang hal-hal dibawah ini. banyak yang membenarkan dengan alasan-alasan tertentu, tapi banyak pula yang menolak dan mengatakan ini hanyalah bid’ah dan khurofat saja. apapun itu, masing-masing punya pendapat, mungkin pula banyak yang belum tercantum disini, tapi bagaimanapun kita, jangan lupakan bahwa semua ada yang berkuasa, kita berhasil atau gagal itu datangnya dari Allah SWT.
tapi masing-masing orang boleh berpendapat. Apa pendapat anda?
simak dulu gan, jangan lupa kasih pendapat…..

KEHAMILAN DAN KELAHIRAN

  1. Dianjurkan kepada siapa ibu yang telah melahirkan, untuk membawa bawang merah, bawang putih dan cabai yang ditusuk dengan lidi untuk menolak bala
  2. Ketika gerhana bulan bagi wanita hamil agar masuk ke kolong dipan, agar anaknya tidak cacat
  3. Jika ibu hamil sedang menginginkan sesuatu ( Ngidam ), apabila tidak dipenuhi, maka anaknya akan ngiler
  4. Bayi yang lahir, terdapat banyak bercak-bercak putih di badannya, berarti akan mendapatkan banyak rezeki kelak
  5. Upacara Nujuh Bulanan, bagi ibu hamil tujuh bulan
  6. Upacara Mitoni bagi bayi yang sudah 7 pasaran
  7. Wetonan, untuk setiap hari kelahiran pasaran
  8. Suami tidak boleh membunuh hewan ketika istrinya hamil agar anaknya tidak cacat
  9. Mengubur ari-ari anak didepan rumah dan di beri lentera
  10. Mengubur ari-ari di balakang pintu
  11. Ibu hamil dianjurkan untuk membawa gunting dan paku, agar tidak diganggu kuntilanak
  12. Ibu hamil, jika bajunya jatuh harus dirobek agar tidak keguguran
  13. Jika ibu hamil bertemu dengan sesuatu yang buruk ( missal, rupanya, kelakuannya,dll) harus berkata jabang bayi lanang wedok/amit-amit jabang bayi
  14. Memsang foto yang terbaik, agar ketika lahir mirip dengan yang ada di foto
  15. Dilarang kepada ibu hamil untuk membenci seseorang ketika hamil, agar anaknya tidak mirip dengan yang di benci
  16. Bayi yang baru lahir disisi ranjangnya harus diberi gunting agar tidak diganggu setan
  17. Bayi cegukan di keningnya diberi benang, agar cepat besar
  18. Bayi sebelum umur 4 bulan tidak boleh dikeluarkan dari rumah saat senja sampai malam
  19.  Berpuasa di hari kelahiran menurut pasaran jawa

JODOH, PERNIKAHAN DAN KEHIDUPAN RUMAH TANGGA

  1. Perawan duduk di depan pintu, akan jauh jodohnya
  2. Apabila suami anak bungsu  dan istrinya anak bungsu, maka akan menutupi kekurangannya masing-masing
  3. Jika rumah  calon istri sebelah selatan, dan rumah calon suami sebelah utara, menyebabkan rumah tangga yang akan dijalani tidak akan langgeng
  4. Jika seorang perempuan geli ketika digelitiki, menandakan suaminya kelak berwajah tampan
  5. Jika menginjak Katak, suami/istrinya  kelak berwajah jelek
  6. Pengantin baru dilarang melewati Gunung Pegat, agar  tidak cerai
  7. Menyisir di bawah sinar rembulan
  8. Memacak bambo didepan rumah calon mempelai
  9. Acara Pingitan untuk calon mempelai
  10. Memasang janur didepan rumah mempelai agar terhindera dari mara bahaya
  11. Mandi kembang tengah malam, agar cepat dapat jodoh
  12. Menginjak telur ketika pernikahan, sebagai tanda kesetiaan
  13. Dilarang bagi 3 orang saudara untuk menikah dalam satu daerah, karena menyebabkan salah satu diantaranya meninggal
  14. Dilarang memakai sandal/sepatu yang berbeda pasang, agar suami tidak suka pergi
  15. Tidak boleh memakan sayap ayam karena akan menyebabkan jodoh ditampik atau jika sudah menikah akan bercerai
  16. Jika saat pernikahan beras yang di berikan suami tumpah, berarti istri sudah hamil

KEMATIAN

  1. Apabila ada burung Gagak, berarti akan ada yang meninggal
  2. Apabila ada kucing hitam melangkahi mayat, maka mayat itu akan hidup lagi
  3. Anak kecil dilarang melihat mayat, agar tidak sawanan
  4. Jika jari manis pada kaki lebih panjang, maka yang meninggal adalah ibunya dahulu daripada ayahnya
  5. Kain kafan bekas mayat tidak boleh dipakai, agar berpengaruh kepada yang meninggal
  6. Apabila ada yang meninggal, maka keluarganya harus lewat dibawah kerandanya tanda perpisahan

KESEHARIAN

  1. Kejatuhan Cicak, tanda akan tertimpa musibah
  2. Menabrak kucing, tanda akan terjadi kecelakaan
  3. AdaKupu-kupu, tanda akan ada tamu
  4. Kedutan, tanda sedang dibicarakan orang
  5. Tergigit lidanya, tanda sedang dibicarakan orang
  6. Makan sambil tiduran, menyebabkan suami/istrinya malas
  7. Menyapu kurang bersih, menyebabkan suaminya berjenggot dan berkumis
  8. Jika mata kedutan, berarti :
  9. Kedua-duanya :tanda akan melihat seseorang
  10. Mata kiri                       :tanda akan menangis
  11. Mata Kanan                  :tanda akan dapat rezeki
  12. Jika tangannya kedutan, tanda akan dapat uang
  13. Jika memakai baju terbalik, maka akan dapat sesuatu dari seseorang
  14. Ketika ditengah perjalanan bertemu tupai meringis, tanda tidak adanya seseorang yang akan kita tuju
  15. Membuka payung didalam rumah, mengakibatkan rumahnya kebakaran
  16. Jika mengangkat kaki ketika tidur, menyebabkan :
  17. Kaki kiri, Ayahnya akan meninggal
  18. Kaki kanan, Ibunya akan meninggal
  19. Jika seseorang memmberi sesuatu kepada orang lain kemudian mengambilnya lagi, akan ditimpa bintitan
  20. Jika cegukan, berarti akan bertambah tinggi badannya
  21. Jika sedang minum kemudian tersedak, tanda sedang dibicarakan oleh orang lain
  22. Jika mandi sebelum shubuh, akan membuat awet muda
  23. Jika muncul pelangi, tanda bidadari sedang mandi
  24. Jika seseorang itu makan dengan cepat, maka kerjanya pun cepat Apabila gigi tanggal, agar tidak tongos, maka :
  25. Gigi atas, dibuang di selokan
  26. Gigi bawah, dibuang di genting
  27. Tidak boleh memegang beras dengan tangan kiri, menyebabkan tangannya cacat
  28. Jika menghaluskan bumbu dengan menggunakan cobek, telunjuk tidak boleh menunjuk kedepan, membuat masakan tidak enak
  29. Tidur di pagi hari menyebabkan tidak mendapatkan rezeki
  30. Burung hantu bersuara nyaring pertanda buruk
  31. Jika memotong kuku pada malam hari akan mengurangi rezeki
  32. Menjual motor setelah kecelakaan, akan membuang sial
  33. Kucing membelakangi api, tanda cuaca buruk/hujan lebat
  34. Burung membasahi sayap, tanda akan datang kemarau
  35. Tidak boleh memasukkan kayu dengan menggunakan kaki
  36. Tidak boleh makan buah kelapa langsung dibawah pohonnya
  37. Tidak boleh menyisir rambut pada malam hari
  38. Tidak boleh menyapu lantai pada malam hari dan keramas pada sore hari, karena akan mengurangi rezeki
  39. Tidak boleh memakai sisir yang rusak, karena akan mengurangi rezeki
  40. Jika mempunyai tahi lalat di punggung, tanda bahwa orang suka tidur

TAFSIRAN MIMPI

  1. Mimpi gigi tanggal, berarti akan tertimpa  musibah (Keluarga ada yang meninggal)
  2. Mimpi di kejar/digigit ul;ar, akan datang jodohnya
  3. Mimpi akan menikah, berarti akan meninggal
  4. Mimpi melihat air, Berarti akan mendapatkan rezeki
  5. Mimpi terbang, berarti akan mendapatkan rezeki
  6. Mimpi angka-angka, berarti angka itulah yang akan keluar pada togel
  7. Mimpi disunting orang, akan dapat rezeki
  8. Mimpi naik kuda, maka akan menjadi anak yang pemberani

HAL-HAL GHOIB

  1. Apabila tidak memberi makanan dan sesajen pada hari tertentu ke kuburan, menyebabkan hidupnya tidak akan tentram
  2. Bayi yang sedang tersenyum sendiri, berarti sedang bercanda dengan saudaranya
  3. Ketika Maghrib telah tiba, dilarang keluar rumah,karena banyak setan berkeliaran
  4. Membakar kemenyan di pohon supaya terjaga dari bahaya
  5. Menahan hujan dengan sapu lidi/padi dipojok rumah
  6. Memberi gelang dari benang sebagai jimat untuk anak kecil yang sakit-sakitan
  7. Unyeng-unyeng yang lebih dari satu berarti nakal
  8. Menaburi bunga di perempatan jalan agar terhindar dari kecelakaan
  9. Dilarang memakai baju hijau di Pantai Selatan.
  10. Jika melewati jembatan angker, harus membunyikan klakson dahulu
  11. Jika melewati Pohon besar atau tempat tertentu, maka harus permisi dahulu
  12. Memendam kepala kerbau sebagai tumbal, agar jembatan kuat
  13. Melarung sapi kelaut, agar hidup lebih baik
  14. Munculnya bintang kemukus, berarti akan terjadi kejadian besar
  15. Tahi lalat dibahu kiri akan mengalami beban berat dalam hidup
  16. Mencukur alis akan dapat melihat alam lain
  17. meminum air bekas do`a-do`a agar sembuh dari penyakit
  18. Meminum arang dari buku yang dibakar, agar cepat hafal
  19. Ziarah kubur pada malam kamis
  20. Anak-anak membawa makanan dan berdo`a, setelah itu makan bersama ditengah jalan untuk mnyelamatkan jalan
  21. Memberikan Sesajen di sawah, agar tanaman berlipat hasil
  22. Meminta rezeki, jodoh dll, ke kuburan tertentu
  23. Berpesta pada hari mauled nabi akan menambah rezeki
  24. Hari Jum`at, Khusunya siang, tidak boleh naik pohon karena akan mengakibatkan orang yang menaikinya menjadi kera
Iklan

lanos….a closer look

Posted: April 12, 2012 in business

ImageImageImageImageImageImageImageImage


A. Awal Masuknya Islam di Indonesia

Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya.

Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan.

Tentang kapan Islam datang masuk ke Indonesia, menurut kesimpulan seminar “ masuknya Islam di Indonesia” pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di Medan, Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah atau pada abad ke tujuh masehi. [1] meskipun kita jumpai juga banyak versi yang menyebutkan berbeda.

B. Cara Masuknya Islam di Indonesia

Islam masuk keIndonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam berkembang dan tersebar diIndonesiajustru dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan para ulama. Karena memang para ulama berpegang teguh pada prinsip Kitab suci Al-Qur`an yaitu yang tertera dalamsuratAl-Baqarah ayat 256 : Tidak ada paksaan dalam agama.

Adapun cara masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain ; perdagangan, kultural, pendidikan dan kekuasaan politik.[2]

1.Perdagangan

Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang dengan orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke Nusantara (Indonesia). Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan agama Islam.

2. Kultural

Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga dengan pengembangan kesenian wayang. Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang yang bertema Hindu dengan ajaran Islam.[3] Sunan Muria dengan pengembangan gamelannya. Kedua kesenian tersebut masih digunakan dan digemari masyarakatIndonesia khususnya jawa sampai sekarang. Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anak-anak, seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.

3. Pendidikan

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam pengembangan Islam di Indonesia.Parada’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku,Ternate, hingga ke Nusa Tenggara. Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali penyebaran Islam di seluruhIndonesia.

4. Kekuasaan politik

Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan. Di pulau Jawa, misalnya ke Sultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara[4]

Raja Gowa-Tallo diSulawesiselatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa. Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasionalIndonesiadimasa mendatang.

C. Perkembangan Islam di Beberapa Wilayah Nusantara

1. Di Sumatra

Kesimpulan hasil seminar di Medan tersebut di atas, dijelaskan bahwa wilayah Nusantara yang mula-mula dimasuki Islam adalah pantai barat pulau Sumatra dan daerah Pasai yang terletak di Aceh utara yang kemudian di masing-masing kedua daerah tersebut berdiri kerajaan Islam yang pertama yaitu kerajaan Islam Perlak dan Samudra Pasai.

Menurut keterangan Prof. Ali Hasmy dalam makalah pada seminar “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh” yang digelar tahun 1978 disebutkan bahwa kerajaan Islam yang pertama adalah kerajaan Perlak. Namun ahli sejarah lain telah sepakat, Samudra Pasailah kerajaan Islam yang pertama di Nusantara dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Malik Al-Saleh (memerintah dari tahun 1261 s.d 1297 M). Sultan Malik Al-Saleh sendiri semula bernama Marah Silu. Setelah mengawini putri raja Perlak kemudian masuk Islam berkat pertemuannya dengan utusan Syarif Mekkah yang kemudian memberi gelar Sultan Malik Al-Saleh.

Kerajaan Pasai sempat diserang oleh Majapahit di bawah panglima Gajah Mada, tetapi bisa dihalau. Ini menunjukkan bahwa kekuatan Pasai cukup tangguh dikala itu. Baru pada tahun 1521 di taklukkan oleh Portugis dan mendudukinya selama tiga tahun. Pada tahun 1524 M Pasai dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayat Syah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai berada di bawah pengaruh keSultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam (sekarang dikenal dengan kabupaten Aceh Besar).

Munculnya kerajaan baru di Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam, hampir bersamaan dengan jatuhnya kerajaan Malaka karena pendudukan Portugis. Dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim kerajaan Aceh terus mengalami kemajuan besar. Saudagar-saudagar muslim yang semula berdagang dengan Malaka memindahkan kegiatannya ke Aceh. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam ( 1607 – 1636). [5]

Kerajaan Aceh ini mempunyai peran penting dalam penyebaran Agama Islam ke seluruh wilayah Nusantara.Parada’i, baik lokal maupun yang berasal dari Timur Tengah terus berusaha menyampaikan ajaran Islam ke seluruh wilayah Nusantara. Hubungan yang telah terjalin antara kerajaan Aceh dengan Timur Tengah terus semakin berkembang.

Tidak saja para ulama dan pedagang Arab yang datang keIndonesia, tapi orang-orangIndonesiasendiri banyak pula yang hendak mendalami Islam datang langsung ke sumbernya di Mekah atau Madinah. Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke 16. Bahkan pada tahun 974 H. atau 1566 M dilaporkan ada 5 kapal dari kerajaan Asyi (Aceh) yang berlabuh di bandar pelabuhan Jeddah. Ukhuwah yang erat antara Aceh dan Timur Tengah itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Mekah.

2. Di Jawa

Benih-benih kedatangan Islam ke tanah Jawa sebenarnya sudah dimulai pada abad pertama Hijriyah atau abad ke 7 M. Hal ini dituturkan oleh Prof. Dr. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam, bahwa pada tahun 674 M sampai tahun 675 M. sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan pernah singgah di tanah Jawa (Kerajaan Kalingga) menyamar sebagai pedagang. Bisa jadi Muawiyah saat itu baru penjajagan saja, tapi proses dakwah selanjutnya dilakukan oleh para da’i yang berasal dari Malaka atau kerajaan Pasai sendiri. Sebab saat itu lalu lintas atau jalur hubungan antara Malaka dan Pasai disatu pihak dengan Jawa dipihak lain sudah begitu pesat. Adajuga sumber yang menyebutkan bahwasannya Islam masuk pada abad 13 Masehi, didasarkan pada perdagangan Gujarat yang masuk ke Indonesia.[6]

Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali Sanga[7], yaitu :

a. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik

Beliau dikenal juga dengan sebutan Syeikh Magribi. Ia dianggap pelopor penyebaran Islam di Jawa. Beliau juga ahli pertanian, ahli tata negara dan sebagai perintis lembaga pendidikan pesantren. Wafat tahun 1419 M.(882 H) dimakamkan di Gapura Wetan Gresik [8]

b. Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel).

 Dilahirkan di Aceh tahun 1401 M. Ayahnya orang Arab dan ibunya orang Cempa, ia sebagai mufti dalam mengajarkan Islam tak kenal kompromi dengan budaya lokal. Wejangan terkenalnya Mo Limo yang artinya menolak mencuri, mabuk, main wanita, judi dan madat, yang marak dimasa Majapahit. Beliau wafat di desa Ampel tahun 1481 M. Jasa-jasa Sunan Ampel :

  1. Mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekatSurabaya. Dari pesantren ini lahir para mubalig kenamaan seperti : Raden Paku (Sunan Giri), Raden Fatah (Sultan Demak pertama), Raden Makhdum (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan Maulana Ishak yang pernah diutus untuk menyiarkan Islam ke daerah Blambangan.
  2. Berperan aktif dalam membangun Masjid Agung Demak yang dibangun pada tahun 1479 M.
  3. Mempelopori berdirinya kerajaan Islam Demak dan ikut menobatkan Raden Patah sebagai Sultan pertama.

c.       Sunan Giri (Raden Aenul Yaqin atau Raden Paku)

Ia putra Syeikh Yakub bin Maulana Ishak. Ia sebagai ahli fiqih dan menguasai ilmu Falak. Dimasa menjelang keruntuhan Majapahit, ia dipercaya sebagai raja peralihan sebelum Raden Patah naik menjadi Sultan Demak. Ketika Sunan Ampel wafat, ia menggantikannya sebagai mufti tanah Jawa.

d. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Putra Sunan Ampel lahir tahun 1465. Sempat menimba ilmu ke Pasai bersama-sama Raden Paku. Beliaulah yang mendidik Raden Patah. Beliau wafat tahun 1515 M.

e.       Sunan Kalijaga (Raden Syahid)

Ia tercatat paling banyak menghasilkan karya seni berfalsafah Islam. Ia membuat wayang kulit dan cerita wayang Hindu yang diislamkan. Sunan Giri sempat menentangnya, karena wayang Beber kala itu menggambarkan gambar manusia utuh yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kalijaga mengkreasi wayang kulit yang bentuknya jauh dari manusia utuh. Ini adalah sebuah usaha ijtihad di bidang fiqih yang dilakukannya dalam rangka dakwah Islam.

f.        Sunan Drajat

Nama aslinya adalah Syarifudin (putra Sunan Ampel, adik Sunan Bonang). Dakwah beliau terutama dalam bidang sosial. Beliau juga mengkader para da’i yang berdatangan dari berbagai daerah, antara lain dari Ternate dan Hitu Ambon.

g.  Syarif Hidayatullah. Nama lainnya adalah Sunan Gunung Jati

Yang kerap kali dirancukan dengan Fatahillah, yang menantunya sendiri. Ia memiliki keSultanan sendiri diCirebonyang wilayahnya sampai ke Banten. Ia juga salah satu pembuat sokoguru masjid Demak selain Sunan Ampel, Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Keberadaan Syarif Hidayatullah dengan kesultanannya membuktikan ada tiga kekuasaan Islam yang hidup bersamaan kala itu, yaitu Demak, Giri danCirebon. Hanya saja Demak dijadikan pusat dakwah, pusat studi Islam sekaligus kontrol politik para wali.

h.  Sunan Kudus

Nama aslinya adalah Ja’far Sadiq. Lahir pada pertengahan abad ke 15 dan wafat tahun 1550 M. (960 H). Beliau berjasa menyebarkan Islam di daerah kudus dan sekitarnya. Ia membangun masjid menara Kudus yang sangat terkenal dan merupakan salah satu warisan budaya Nusantara.
i . Sunan Muria

Nama aslinya Raden Prawoto atau Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga. Beliau menyebarkan Islam dengan menggunakan sarana gamelan, wayang serta kesenian daerah lainnya. Beliau dimakamkan di Gunung Muria, disebelah utarakotaKudus.

Diparuh awal abad 16 M, Jawa dalam genggaman Islam. Penduduk merasa tentram dan damai dalam ayoman keSultanan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Syah Alam Akbar Al Fatah atau Raden Patah.[9] Hidup mereka menemukan pedoman dan tujuan sejatinya setelah mengakhiri masa Siwa-Budha serta animisme. Merekapun memiliki kepastian hidup bukan karena wibawa dan perbawa sang Sultan, tetapi karena daulah hukum yang pasti yaitu syari’at Islam.

“Salokantara” dan “Jugul Muda” itulah dua kitab undang-undang Demak yang berlandaskan syari’at Islam. Dihadapan peraturan negeri pengganti Majapahit itu, semua manusia sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Sultan-Sultan Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para Ulama atau Wali. Para Ulama itu berperan sebagai tim kabinet atau merangkap sebagai dewan penasehat Sultan.

Dalam versi lain dewan wali sanga dibentuk sekitar 1474 M. oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel), membawahi Raden Hasan, Maftuh Ibrahim, Qasim (Sunan Drajat) Usman Haji (ayah Sunan Kudus, Raden Ainul Yakin (Sunan Gresik), Syekh Sutan Maharaja Raden Hamzah, dan Raden Mahmud. Beberapa tahun kemudian Syekh Syarif Hidayatullah dariCirebonbergabung di dalamnya. Sunan Kalijaga dipercaya para wali sebagai muballig keliling. Disamping wali-wali tersebut, masih banyak Ulama yang dakwahnya satu kordinasi dengan Sunan Ampel hanya saja, sembilan tokoh Sunan Wali Sanga yang dikenal selama ini memang memiliki peran dan karya yang menonjol dalam dakwahnya.

3.  Di Sulawesi

Ribuan pulau yang ada diIndonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke pulau. Baik atas motivasi ekonomi maupun motivasi politik dan kepentingan kerajaan. Hubungan ini pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Celebes atauSulawesi. Menurut catatan company dagang Portugis pada tahun 1540 saat datang keSulawesi, di tanah ini sudah ditemui pemukiman muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu banyak, namun upaya dakwah terus berlanjut dilakukan oleh para da’i di Sumatra, Malaka dan Jawa hingga menyentuh raja-raja di kerajaan Gowa dan Tallo atau yang dikenal dengan negeri Makasar, terletak di semenanjung barat daya pulau Sulawesi.

Kerajaan Gowa ini mengadakan hubungan baik dengan kerajaan Ternate dibawah pimpinan Sultan Babullah yang telah menerima Islam lebih dahulu. Melalui seorang da’i bernama Datuk Ri Bandang agama Islam masuk ke kerajaan ini dan pada tanggal 22 September 1605 Karaeng Tonigallo, raja Gowa yang pertama memeluk Islam yang kemudian bergelar Sultan Alaudin Al Awwal (1591-1636 ) dan diikuti oleh perdana menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa.

Setelah resmi menjadi kerajaan bercorak Islam Gowa Tallo menyampaikan pesan Islam kepada kerajaan-kerajaan lain seperti Luwu, Wajo, Soppeng dan Bone. Raja Luwu segera menerima pesan Islam diikuti oleh raja Wajo tanggal 10 Mei 1610 dan raja Bone yang bergelar Sultan Adam menerima Islam tanggal 23 November 1611 M. Dengan demikian Gowa (Makasar) menjadi kerajaan yang berpengaruh dan disegani. Pelabuhannya sangat ramai disinggahi para pedagang dari berbagai daerah dan manca negara. Hal ini mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi kerajaan Gowa (Makasar). Puncak kejayaan kerajaan Makasar terjadi pada masa Sultan Hasanuddin (1653-1669).[10]

  1. 4.      Di Kalimantan

Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal denganBorneomelalui tiga jalur. Jalur pertama melalui Malaka yang dikenal sebagai kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar sebab para muballig dan komunitas muslim kebanyakan mendiamai pesisir baratKalimantan.

Jalur kedua, Islam datang disebarkan oleh para muballig dari tanah Jawa. Ekspedisi dakwah keKalimantanini mencapai puncaknya saat kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak Muballig ke negeri ini.Parada’i tersebut berusaha mencetak kader-kader yang akan melanjutkan misi dakwah ini.

Jalur ketiga para da’i datang dariSulawesi(Makasar) terutama da’i yang terkenal saat itu adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.

Di daerah Kalimantanini, ada 2 daerah yang menjadi pintu bagi penyebaran agama Islam, yaitu Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.[11]

a. Kalimantan Selatan

Masuknya Islam di Kalimantan Selatan adalah diawali dengan adanya krisis kepemimpinan dipenghujung waktu berakhirnya kerajaan Daha Hindu. Saat itu Raden Samudra yang ditunjuk sebagai putra mahkota oleh kakeknya, Raja Sukarama minta bantuan kepada kerajaan Demak di Jawa dalam peperangan melawan pamannya sendiri, Raden Tumenggung Sultan Demak (Sultan Trenggono) menyetujuinya, asal Raden Samudra kelak bersedia masuk Islam.

Dalam peperangan itu Raden Samudra mendapat kemenangan. Maka sesuai dengan janjinya ia masuk Islam beserta kerabat keraton dan penduduk Banjar. Saat itulah tahun (1526 M) berdiri pertama kali kerajaan Islam Banjar dengan rajanya Raden Samudra dengan gelar Sultan Suryanullah atau Suriansyah. Raja-raja Banjar berikutnya adalah Sultan Rahmatullah (putra Sultan Suryanullah), Sultan Hidayatullah (putra Sultan Rahmatullah dan Marhum Panambahan atau Sultan Musta’in Billah. Wilayah yang dikuasainya meliputi daerah Sambas, Batang Lawai, Sukadana, Kota Waringin, Sampit Medawi, dan Sambangan.

b. Kalimantan Timur

Di Kalimantan Timur inilah dua orang da’i terkenal datang, yaitu Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, sehingga raja Kutai (raja Mahkota) tunduk kepada Islam diikuti oleh para pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang. Untuk kegiatan dakwah ini dibangunlah sebuah masjid.
Tahun 1575 M, raja Mahkota berusaha menyebarkan Islam ke daerah-daerah sampai ke pedalaman Kalimantan Timur sampai daerah Muara Kaman, dilanjutkan oleh Putranya, Aji Di Langgar dan para penggantinya.
5. Di Maluku.

Kepulauan Maluku terkenal di dunia sebagai penghasil rempah-rempah, sehingga menjadi daya tarik para pedagang asing, tak terkecuali para pedagang muslim baik dari Sumatra, Jawa, Malaka atau dari manca negara. Hal ini menyebabkan cepatnya perkembangan dakwah Islam di kepulauan ini.
Islam masuk ke Maluku sekitar pertengahan abad ke 15 atau sekitar tahun 1440 dibawa oleh para pedagang muslim dari Pasai, Malaka dan Jawa (terutama para da’i yang dididik oleh para Wali Sanga di Jawa). Tahun 1460 M, Vongi Tidore, raja Ternate masuk Islam. Namun menurut H.J De Graaft (sejarawan Belanda) bahwa raja Ternate yang benar-benar muslim adalah Zaenal Abidin (1486-1500 M). Setelah itu Islam berkembang ke kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Tetapi diantara sekian banyak kerajaan Islam yang paling menonjol adalah dua kerajaan , yaitu Ternate dan Tidore.

Raja-raja Maluku yang masuk Islam seperti :

  1. Raja Ternate yang bergelar Sultan Mahrum (1465-1486).
  2. Setelah beliau wafat digantikan oleh Sultan Zaenal Abidin yang sangat besar jasanya dalam menyiarkan Islam di kepulauan Maluku, Irian bahkan sampai ke Filipina.
  3. Raja Tidore yang kemudian bergelar Sultan Jamaluddin.
  4. Raja Jailolo yang berganti nama dengan Sultan Hasanuddin.
  5. Pada tahun 1520 Raja Bacan masuk Islam dan bergelar Zaenal Abidin.

Selain Islam masuk dan berkembang di Maluku, Islam juga masuk ke Irian yang disiarkan oleh raja-raja Islam di Maluku, para pedagang dan para muballig yang juga berasal dari Maluku.

Daerah-daerah di Irian Jaya yang dimasuki Islam adalah : Miso, Jalawati, Pulau Waigio dan Pulau Gebi.[12]


[2] Ibid

[3] Indonesia  Selayang Pandang, Dra. Hj. Siti Nadhiroh dan Team, PT. MedinaIndonesia, , Ciputat, September 2003, hal: 31

[5] MC Ricklefs, A History of Modern Indonesia: c. 1300 ke Present,Bloomington: Indiana University Press, 1981, 316

[6]Indonesia  Selayang Pandang, Dra. Hj. Siti Nadhiroh dan Team, PT. MedinaIndonesia, , Ciputat, September 2003, hal: 30

[7] Aliran Kebatinan dan kepercayaan diIndonesia, Prof. Kamil Kartapradja, CV Haji Masagung,Jakarta, 1990, hal:34

[9] Aliran Kebatinan dan kepercayaan diIndonesia, Prof. Kamil Kartapradja, CV Haji Masagung,Jakarta, 1990, hal:31

[12] Ibid.


A.    
Arti Filsafat Islam

Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, kata berangkai dari kata Philo : yang berarti mencintai, dan Sophia: yang berarti kebijaksanaan. Dapat kita artikan, bahwasannya Filsafat adalah mencintai kebijaksanaan[1]atau dapat pula diartikan, bahwa Filsafat yaitu : meraih rasa cinta akan kebijaksanaan.[2]

Objek kajiannya  meliputi juga ilmu, yaitu usaha untuk mencari sebab yang universal. Maka, filsafat sangat menjunjung tinggi kebenaran atau pengetahuan yang sejati, dimana pengetahuan itu tidak akan berhenti sampai ia menemukan titik muaranya.

Dari pemaparan tersebut, Filsafat adalah: hasil kerja berpikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis, radikal dan universal. Sedangkan Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ketuhanan, kenabian, manusia dan alamyang disinariajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis.[3] Berarti dapat ditemukan perbedaan disini, yaitu kata Islam yang menjadi kuncinya. Yang merupakan cara untuk mencapai dan Objek yang akan digunakan dalam kajian ini, serta yang paling menonjol adalah Tokoh yang melatarbelakangi pemikiran / pengetahuan sejati tersebut beragama Islam atau dari kalangan orang Muslim.

B.     ASAL-USUL FILSAFAT ISLAM

Sesungguhnya falsafah adalah cabang pengetahuan dalam khazanah intelektual Islam, namun falsafah tidak dapat disebut sebagai nama Filsafat Islam. Hal ini dapat dilihat ketika falsafah yang berasal dari Yunani masuk kedalam tradisi intelektual Islam para ulama yang umumnya fuqaha menolaknya, terutama ilmu mantiq (logika),

Akar filsafat Islam bukanlah filafat Yunani, tapi adalah konsep-konsep kunci dari wahyu. M. Iqbal bahkan mengatakan bahwa spirit Islam adalah anti-klasik, maksudnya adalah anti-Yunani[4]

Jadi framework yang mengaitkan filsafat Islam dengan filsafat Yunani menurut C.A.Qadir jauh dari benar. Sumber aspirasi yang asli dan riel para pemikir Muslim, menurutnya, adalah al-Qur’an dan Hadith. Pemikiran Yunani hanya memberi stimulasi dan membuka jalan untuknya.  Karena itu fakta bahwa Muslim berhutang pada Yunani adalah sama benarnya dengan fakta bahwa Muslim juga bertentangan dengan beberapa pemikiran filsafat Yunani. Dalam masalah Tuhan, manusia dan alam semesta para pemikir Muslim memiliki konsep mereka sendiri yang justru tidak terdapat dalam filsafat Yunani.[5]

Filsafat Islam dianggap sebagai idealisme yang menjadi norma yang dapat digunakan untuk mengevaluasi filsafat Muslim. Jadi filsafat Islam adalah tujuan dan aspirasi masa depan.[6].Namun, sebenarnya menggunakan nama Filsafat Islam sebab hal itu justru menjunjukkan bahwa filsafat Islam adalah filsafat yang lahir pandangan hidup Islam.

C.    NAMA FILSAFAT ISLAM

Tentang nama Disiplin Ilmu ini, ada 2 versi pendapat, yaitu, Filsafat Islam dan Filsafat Arab. Yang berpendapat bahwasannya ini adalah filsafat Arab, karena:

  1. “Arab” diberikan karena bahasa yang dipakai adalah Bahasa Arab.
  2. Meskipun banyak yang bukan beragama Islam, tapi masih dalam rumpun bangsa Arab.
  3. Sejarah Arab lebih tua/dahulu daripada sejarah Islam.

Yang berpendapat bahwasannya ini adalah filsafat Islam, karena:

  1. Para Filsuf yang memberikan Pokok Idenya kedalam kajian ini menamainya dengan Filsafat Islam.
  2. Islam bukan hanya unsure nama saja, tetapi juga berkebudayaan dan peradaban. Dan lagipula tokohnya juga banyak yang non-arab sehingga jika digunakan nama filsafat arab, maka, harus dikeluarkanlah orang tersebut, sedangkan jumlahnya tidak sedikit.
  3. Filsafat Islam terbina dengan cara da`wah Islamiyah dan persoalan yang dibahas adalah persoalan Agama Islam.[7]

Jika menurut pendapat penulis sendiri, sebaiknya nama yang digunakan dalam kajian ini adalah filsafat islam, karena  jika yang digunakan adalah filsafat Arab, maka nama ini identik dengan Bangsa, Bahasa ataupun segala sesuatu yang berbau Arab. Tetapi disini kita lihat, ternyata yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah segala sesuatu tentang Islam dari segi manapun dari tokoh manapun yang dari ataupun selain Arab, yang menggunakan/tidak menggunakan bahasa Arab. Jadi lebih kita cocokkan dengan judul besar suatu kajian, bukan hanya melihat dari satu atau dua sisi saja.

D.    ISI

Sesungguhnya falsafah adalah cabang pengetahuan dalam khazanah intelektual Islam, namun falsafah tidak dapat disebut sebagai nama Filsafat Islam Hal ini dapat dilihat ketika falsafah yang berasal dari Yunani masuk kedalam tradisi intelektual Islam para ulama yang umumnya fuqaha menolaknya, terutama ilmu mantiq (logika).

Tanpa menafikan adanya hubungan antara filsafat Islam dan Yunani MM Sharif mengibaratkan pemikiran Islam dan Muslim sebagai kain sedangkan pemikiran Yunani sebagai sulaman, “meskipun sulaman itu dari emas, kita hendaknya jangan menganggap sulaman itu sebagai kain”[8]. Ini adalaah pernyataan yang cukup adil, artinya meskipun didalam filsafat Islam terdapat unsur-unsur Yunani, tapi filsafat Islam bukanlah filsafat Yunani. Filsafat Barat sendiri yang juga mengandungi unsur Yunani, Islam dan Kristen, tetap saja disebut Filsafat Barat dan dikaji menurut framework Barat.

Dari sini kita dapat melihat suatu framework yang berbeda dari framework orietalis yaitu bahwa akar filsafat Islam bukanlah filafat Yunani, tapi adalah konsep-konsep kunci dari wahyu. M. Iqbal bahkan mengatakan bahwa spirit Islam adalah anti-klasik, maksudnya adalah anti-Yunani. Sementara Seyyed Hossein Nasr menyatakan bahwa Aristotle telah dikirim kembali ketempat asalnya di Barat, bersamaan dengan Averroes, murid terbesarnya[9]. Meskipun begitu Nasr menyadari bahwa dalam filsafat Islam terdapat unsur-unsur Yunani. Hanya saja unsur-unsurnya yang sesuai dengan semangat Islam itu kemudian diintegrasikan kedalam peradaban Islam, khususnya jika hal itu berkaitan dengan Íikmah dalam  pengertian yang universal[10]. Jadi adalah salah jika berfilsafat dalam Islam itu berarti menganut paham skeptisisme, keraguan dan aktifitas manusia yang individualistis yang melawan Tuhan.[11]

Jika menurut DrHasyimsyah Nasution,MAdalam bukunya filsafat Islam. Islam dan Yunani  dalam hal ini tentang Filsafat, ia mengemukakan, disana ada 2 zaman pembagian pemikiran Yunani:

  1. Zaman Yunai atau Helenis. Dari abad VI SM – akhir abad IV SM. Diantara para pesohornya adalah: Socrates, Plato, Aristoteles, dan aliran paripatetik, serta lainnya.
  2. Zaman Helenis-Romawi. Dari setelah Aristoteles(w.322 SM) sampai abad VIII . Zaman ini dibagi menjadi 3 masa perkembangan.:
    1. Dari akhir abad IV SM – pertengahan abad I SM. Pada zaman ini terkenal aliran stoa, Epikurus dan skeptisisme.
    2. Dari pertengahan abad 1 SM hingga pertengahan abad III SM. Di zaman ini dikenal aliran Stoa-akhir, Neo Phytogoreanisme, Epikurus-akhir dan Helennisme Yunani. Zaman ini bersifat ekliktik
    3. Dari pertengahan abad III M – pertengahan abad  VI M di Romawi barat & abad VII di Byzantium. Dizaman ini didominasi oleh Neo-Plantonisme.

Setelah itu, Filsafat Yunani terbagi 2, Plato ( rasionalisme) dan Aristoteles ( material). Dan kebanyakan sejarah tentang Filsafat Yunani dan Islam dihubungkan dengan penyebaran Islam, tetapi dalam hal ini Hasyimsyah banyak berpihak kepada Filsafat Yunanilah yang lebih mempengaruhi filsafat Islam. Jika kita tela`ah kembali buku ini, maka akan kita temukan suatu keganjalan, bahwa ia berkaca pada framework barat, yang mana diawalilah kajjian Sufi Islam pertama yaitu Al-Kindi. Jika Al-Kindi merupakan Filsuf pertama, maka Sebelumnya dalam Islam tidak ada filsafat ? itu merupakan suatu paham yang membelokkan Islam sendiri.

Filsafat Islam dipahami sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam yang konsep-konsep dasarnya berakar pada al-Qur’an dan hadith yang kemudian ditafsirkan dan dikembangkan oleh para ulama sehingga menggambarkan struktur konsep yang berbeda dari filsafat Yunani.  Karena sumber pemikiran filsafat Islam adalah wahyu, maka kajian sejarah filsafat Islam dimulai dari konsep-konsep seminal (seminal concepts) dalam al-Qur’an dan dilanjutkan dengan kajian terhadap pemahaman, penafsiran, penjelasan dan pengembangan konsep-konsep tersebut oleh para pemikir Muslim.

E.     BIBLIOGRAFI

Nasution, Dr. Hasyimsyah,  Filsafat Islam,Gaya Media Pratama,Jakarta, 1998

Turnbull, Neil, Filsafat, Gelora Aksara Pratama,Jakarta, 2005.

Http://www.insistnet.com/content/view/100/41/#_ftn87, Qadir, C.A., Philosophy and Science in The Islamic World, Routledge,London 1988.

………….., M.Saeed Sheikh, Reorientation of Islamic philosophy, Pakistan Philosophical Congress,Lahore, 1964.

………….., M.M. Sharif, (Ed), A History of Muslim Philosophy, Low Price Publication,Delhi, vol., 1995.

…………..,  Nasr,S.H.  Science and    civilization in Islam,Cambridge, Islamic Text Society, 1987

.


[1] Filsafat Islam, Dr. Hasyimsyah Nasution ( Gaya Media Pratama, Jakarta, 1998), hal.1.

[2]Filsafat, Neil Turnbull (Gelora Aksara Pratama,Jakarta, 2005 ), hal. 6.

[3] Filsafat Islam, Dr. Hasyimsyah Nasution ( Gaya Media Pratama, Jakarta, 1998), hal.1.

[4]  http://www.insistnet.com/content/view/100/41/#_ftn87 . lihat buku Qadir, C.A., Philosophy and Science in The Islamic World, Routledge, (London 1988), hal.71

[5] Ibid,  hal..28.

[6]http://www.insistnet.com/content/view/100/41/#_ftn87 lihat buku M.Saeed Sheikh, Reorientation of Islamic philosophy, Pakistan Philosophical Congress, (Lahore, 1964).

[7] Filsafat Islam, Dr. Hasyimsyah Nasution ( Gaya Media Pratama, Jakarta, 1998), hal.4

[8] http://www.insistnet.com/content/view/100/41/#_ftn87 lihat juga buku M.M. Sharif, (Ed), A History of Muslim Philosophy, Low Price Publication, Delhi, vol., 1995, hal. 4.

[9] http://www.insistnet.com/content/view/100/41/#_ftn87 lihat juga buku  Nasr,S.H.  Science and    civilization in Islam,Cambridge, Islamic Text Society, (1987), hal. 7.

[10]  Ibid, lihat juga buku Nasr, S.H. Islamic Studies, Librairie Du Liban,Beirut, (1970)  hal. 112.

[11] Ibid,  hal. 5

PENDAHULUAN

Aliran Asy-ariyah adalah suatu aliran yang muncul sebagai reaksi terhadap paham theology Islam yamg telah mendahuluinya, yaitu Mu`tazilah. Asyariyah diambil dari nama pendirinya yaitu Shaikh Abu Hasan Ali al Asy`ari. Sedang sebagai penganut sunnah Nabi dan I’tiqad para jemaahnya, aliran Asyariyah ini juga di sebut sebagai aliran ahlussunnah Wal-jamaah, atau yang lebih dikenal dengan istilah “Sunny”.[1]

Sebelum mendirikan madzhab ini, al-Asy’ary menganut faham Mu’tazilah tetapi hanya sampai ia berusia 40 tahun, setelah itu, ia mengumkan di hadapan jamaah masjid bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham mu’tazilah dan membeberkan keburukannya.[2] Al-Asy’ary meninggalkan faham mu’tazilah adalah pengakuan Al-Asy’ary telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW.[3]

Formulasi pemikiran Al-Asy-‘ary, secara esensial antara formulasi ortodoks ekstrim di satu sisi dan mu’tazilah di sisi lain. Dari segi etosnya, pergerakan tersebut memiliki semangat ortodoks. Aktualitas formulasinya jelas menampakkan sifat yang reaksional terhadap mu’tazilah, sebuah reaksi yang tidak dapat dihindarinya.[4] Di antara pemikira-pemikiran teologis Al-Asy’ary yang terpenting adalah sebagai berikut:

  1. Tuhan dan sifat-sifatnya
  2. Kebebasan dalam berkehendak (Free-Will)
  3. Akal dan Wahyu dan Kreteria Baik dan Buruk
  4. Qadimnya Al-Qur’an
  5. Melihat Allah
  6. Keadilan
  7. Kedudukan orang berdosa[5]

Tetapi yang akan kita bahas hanya satu yaitu kasb / usaha manusiA yang disini disebut free will.

USAHA MANUSIA ( KASB )

Menurut Al-Asy`ari, perbuatan manusia tidak diwujudkan oleh manusia itu sendiri., seperti diciptakan oleh Tuhan. Perbuatan manusia meskipun secara hakiki dimiliki oleh Tuhan, tetapi manusia memiliki kasb ( perolehan/usaha ) untuk dapat menggunakan perbuatan itu,[6] sehingga ia menjadi bertanggung jawab atas perbuatan tersebut. Jadi, secara majasi manusia melakukan perbuatan sesuai dengan daya yang diberikan oleh Tuhan. Tanpa itu manusia tidak bisa apa-apa. hanya mengusahakan apa yang telah diberikan Tuhan.

Asy`ari juga bertanggungjawab atas doktrin kasb ( Usaha Manusia ). Dia membedakan antara kemampuan untuk berbuat, yaitu mencipta atau menghasilkan, atau mengubah wujud, dan kemampuan untuk menghendaki yang sama.

Mereka menyangkal adanya kemampuan bertindak kepada manusia  dengan dasar hanya Tuhan yang mempunyai kemampuan tersebut. Manusia hanya berkehendak, tetapi Tuhanlah yang menentukan objek yang dikehendaki. Manusia mendapat manfaat atau keburukan dari suatu kejadian bukan karena dia melakukannuya, tetapi karena ia menghendakinya.[7]

Kakuasaan mutlak Tuhan atas alam semesta ini, hak penciptaan-Nya atas seluruh kejadian, keadilan-Nya, dan tanggungjawab manusia ( yang ditegaskan Islam) dengan demikian selaras.

Doktrin kasb Al-Asy`ari sesuai dengan pandangan modern tentang realitas sebagai system tertutup yang bebas dari kendala kausal. Pandangan ini juga sesuai dengan pandangan tentang perbuatan manusia yang tak lebih daripada intervensi  yang membelokkan aliran kausal dari satu efek ke efek lain yang dipilih manusia.[8]

Kalau dalam benak kita terlintas pertanyaan apakah manusia memiliki  kemampuan untuk memilih, menentukan, serta mengaktualisasikan perbuatannya? jika Al-Asy`ary, mereka berpendapat  bahwasannya antara khaliq dan makhluk adalah berbeda. jika kholiq adalah pencipta yang mampu menciptakan segala sesuatu termasuk keinginan  manusia. jika makhluk yang disini mereka menyebutnya muktasib adalah yang mengusahakan sendiri usaha/perbuatannya[9]. jadi, menurut mereka meskipun manusia mempunyai usaha tapi tetap Tuhanlah yang berkuasa menentukan dan memberikan usaha tersebut.

Efek dari paham ini adalah bahwasannya manusia bersikap pasif dalam perbuatan-perbuatannya.[10] Argumen Asy-ari untuk membela keyakinannya adalah firman Allah:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ {96} (سورة الصافات: 96)

Artinya :

“Tuhan menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. “

(Q.S. Ash-Shaffat [37]: 96)

Wa ma ta’malun pada ayat diatas diartikan Al-Asy’ari dengan apa yang kamu perbuat dan bukan apa yang kamu buat. Dengan demikian, ayat ini mengandung arti Allah menciptakan kamu dan perbuata-perbuatanmu. Dengan kata lain, dalam faham Asy’ari, yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia sebenarnya adalah Tuhan sendiri.[11]dengan kata lain manusia sangat lemah tanpa daya dan kesempatan dari Tuhan.

Pada prinsipnya, aliran Asy’ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya. Allah menciptakan perbuatan untuk manusia dan menciptakan pula -pada diri manusia- daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan disini adalah ciptaan Allah dan merupakan kasb (perolehan) bagi manusia. [12] Dengan demikian kasb mempunyai pengertian penyertaan perbuatan dengan daya manusia yang baru. Ini berimplikasi bahwa perbuatan manusia dibarengi oleh daya kehendaknya, dan bukan atas day kehendaknya.

KESIMPULAN

 

Paham Kasb Asy`ariyah sebagai berikut, pada intinya adalah, manusia   hanya menjalankan apa yang telah Tuhan  beri atas kesempatan. dan manusia hanya bisa mengusahakan ketentuan Tuhan saja

Tuhan sebagai Kholiq berkuasa atas segala seuatu, termasuk yang berkenaan dengan nasib dan apa yang diusahakan manusia, dalam hal ini kasb manusia di dunia dan ganjarannya di akhirat.

PENUTUP

 

Alhamdulillah, dengan sedikit pengetahuan kita tentang Asy`ariyah tersebut, maka kita tahu harus bagaimana menempatkan kepercayaan kita dan mungkin dapat mengubah wacana kita tentang Asy`ariyah serta sedikit pengetahuan  tentang apa yang ada di dalamnya

Dengan hadirnya suatu paham ini, maka satu hijab pun terbuka sudah. satu aliran islam telah terkuak, tinggal bagaimana kita sebagai seorang muslim yang bena-benar ingin mencari tahu kebenaran menempatakan pamahaman kita.

Bukan berarti terkenalnya orang adalah yang benar, tetapi lebih dari itu adalah yang tepat bagaimana orang itu mengikuti jejak dan Sunnah Rasulullah

dengan berkembangnya dan makin maraknya aliran yang ada diIndonesia, maka lebih baik untuk kita berhati-hati dalam setiap langkah.

 


[1] Drs. Sudarsono, SH. M.Si, Filsafat Islam (Rineka Cipta, Jakarta, Agustus 2004) cetakan kedua hlm.10.

[2] Dr. Abd. Rozak, M.Ag. dan DR. Rosihan Anwar, M.Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia,Bandung, 2006, hal.120.

[3] Jalal Muhammad Musa, Nasy’at Al-asya’irah, wa tathawwuruha, Dar Al-Kitab Al=Lubani,Beirut, 1975, hlm.120.

[4] Ahmad amin, Dhuha al-Islam, Dar Al-Misriyah, Kairoh, 1946, hlm.121.

[5] Dr. Abd. Rozak, M.Ag. dan DR. Rosihan Anwar, M.Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia,Bandung, 2006, hal. 121-124.

[6] Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI Press,Jakarta, 1986, hal. 106

[7] Ibid, hal 105

[8] Ensiklopedia Islam,  hal. 324

[9] Abu Hasan bin Ismail Al-Asy`ari, Al-Ibanah An Ushul Ad Diyanah, Hyderabat,Deccan, 1903, hal.9,

[10] Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI Press,Jakarta, 1986, hal. 107

[11] Ibid, hal. 106

 

[12] Al-Hamid, op. cit., hlm. 279.

Ditinjau dari segi bahasa, akar kata Tasawuf adalah shuuf. Makna secara leksikan adalah kain wol yang kasar. Menurut Ulama salaf, istilah itu sebagai julukan terhadap para sahabat yang fakir, sehingga kain yang digunakan hanyalah berupa kain wol yang kasar, tetapi para sahabat kaya secara bathiniyah.[1]

Al-Junaid berkata “Tasawuf merupakan sikap tunduk yang tidak ada kompromi sama sekali. Tasawuf itu pikiran penuh dengan konsentrasi hati yang bersandar kepada Allah, dan perbuatan yang bersandar pada Kitab dan Sunnahnya.[2] Tasawwuf sebagai suatu ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang muslim berada sedekat mungkin dengan Allah, dapat dibdakan menjadi Tasawwuf Amaly/Akhlaqy dengan Tasawwuf Falsafi. [3]

Dari pengelompokan ini tergambar adanya unsur-unsur kefilsafatan dalam ajaran Tasawwuf, seperti penggunaan logika dalam menjelaskan maqomat. Adapun hubungan antara Filsafat Islam dan Tasawwuf dapat dijelaskan sebagai berikut : Objek filsafat membahas tentang segala sesuatu yang ada, baik fisika maupun metafisika yang dikaji dengan menggunakan argumenakal dan logika. Objek Tasawuf pada dasarnya mengenal Allah, baik dengan jalan ibadah maupun dengan ilham dan intuisi. [4]

Dengan menempuh jalan mujahadah dan musyahadah, serta berbicara dengan bahasa intuisi dan pengalaman bathin, maka manusia mempunyai pengetahuan tentang metafisika bukan hanya dari akal tetapi dari Dalil-dalil Naqly yang lebih  kuat sebagai petunjuk jalan akal yang terbatas.

Allah adalah metafisik, yang jika kita ingin memikirkannya, pastilah terbatas sampai hanya setingkat hal-hal yang dapat kita pelajari. Jauh di atasnya terdapat pengetahuan yang kita sama sekali tidak mampu untuk memikirkannya, karena otak dan akal manusia sangatlah terbatas.

Maka seorang Sufi, selain mengkaji ilmu Allah secara Intuisi ataupun ilham, haruslah mengkajinya dengan rasio pula untuk menentang paham-paham rasionalis brutal yang membuat seonggok akal menjadi Tuhan, dengan menggunakan dalil-dalil dari WahyuNya. Begitupun dengan para Filosof, jangan hanya menggunakan Akal atau rasio saja dalam pembuktian segala sesuatu, khususnya tentang metafisik, tetapi juga dengan menggunakan dalil yang menunjukkan obor kebenaran untuk akal, sehingga akal tidak masuk atau berjalan kejalan yang menyimpang.

Kitab suci al-Qur`an sendiri banyak memuat firman Allah yang mengajarkan agar manusia giat berfikir untuk memahami berbagai selok-belok kejadian di alam semesta dan peristiwa-peristiwa sejarah, serta untuk memahamkan betapa agungnya Tuhan. Namun pemikiran berdasarkan akal tidaklah memadai. Ia mesti dilandasi keimanan dan petunjuk (al-huda) Ilahi sebagaimana terkandung dalam ayat-ayat suci al-Qur`an. Dan al-Qur`an dinyatakan dalam firman Tuhan sebagai kitab yang berisi petunjuk yang tidak dapat diragukan.

Dr. H. Hamzah Ya`kub berpendapat dalam bukunya Filsafat Ketuhanan, bahwa Titik temu filsafat Islam dan ilmu tasawwuf adalah sebagai berikut :

  1. Pembuktian adanya Tuhan dengan fikiran
  2. Mengetahui jalan pikiran para Filosof
  3. Mengetahui kebathilan atheisme
  4. Mengetahui kebathilan syirik
  5. Menghindari Taqlid buta
  6. Membuahkan ketakwaan yang bernilai tinggi
  7. Kepuasan dan ketenangan bathin[5]

Tetapi jika kita  melihat pendapat Mustofa, maka kita akan dapat membuat table  perbedaan juga sangkut paut yang sangat besar antara filsafat Islam dan tasawuf. Terutama dalam hal pembahasan, berbeda pada metode dan objeknya.

 

NO

FILSAFAT

TASAWWUF

1

Dalam memandang harus dengan logika Dalam memandang menggunakan metode muajhadah(pengekangan hawa nafsu) Musyahadah(pandangan batin)

2

Parafilosuf pemilik argumentasi penhujatnya. Dalam berbicara menggunakan bahasa intuisi dan pengalaman batin.Parasufi memilik intuisi dan perasaan batin

3

Objek bahasannya tentang alam seisinya, manusia, fisika dan metafisika (eksistensi Tuhan, termasuk didalamnya) Objeknya adalah pengenalan dengan Allah nlewat Ibadah, Syari`ah, Ilham dan intuisi.

4

Objek Tasawwuf dari hakikat adalah mengenai penampakan(Itajalli), memandang (Musyahadah) dan menyaksikan(Mu`ayanah). Objek Filsafat dari hakikat kebenaran adalah mengenai kepuasan akal untuk membuktikan dengan logika.

Meskipun begitu, ia mengakui bahwa ada percampuran antara keduanya. Terutama pada abad akhir-akhir ini, jelas dalam ingatan kita tentang konsep Ittihad, Hulul, dan Wahdatul Wujud. Dan menurutnya lagi, ini adalah kemiripan proses ketika memasuki aliran-aliran filsafat.[6]

Lebih, jika kita meninjau buku Abdul Razak yang ia tulis bersama dengan kawannya, Rosihon Anwar, Kita menemukan titik persamaan keduanya melalui objek kajian pula. Objek kajian Filsafat adalah masalah alam, manusia, Metafisika, dan segala sesuatu yang ada. Sedangkan objek Kajian Tasawwuf adalah Tuhan, terutama dengan jalan pendekatan kepadanya.[7]Majid Fakhripun berpendapat sama tentang hal tersebut. Dalam bukunya Sejarah filsafat Islam (sebuah peta kronologis) ia mengemukakan hal yang sama antara kedua ilmu tersebut [8]

Meski Ilmu Tasawuf dan Filsafat mempunyai perbedaan, namun pada dasarnya, kedua ilmu tersebut mempunyai suatu kesamaan terutama dalam hal ini adalah objek kajian bahasannya. Dan dari semua ini, kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwasannya Tasawwuf dapat dikatakan bagian dari filsafat Islam adalah termasuk didalamnya kajian tentang ketuhanan, dan filsafat Islam yang kajiannya lebih luas menyeluruh, didalamnya terdapat kajian tentang ketuhanan.

 

 

 

 


 [1] Mempertajam Mata Bathin dan Indra keenam, Imam Al-Ghozali, Mitrapress, Hal. 239

[2] Ibid, hal. 241

[4] Filsafat Islam, Dr.Hasyimsyahh Nasution,MA, hal.6

[5] Filsafat Ketuhanan, DR.H.Hamzah Ya`kub. hal. 22-25

[6] Filsafat Islam, Drs.H.A.Mustofa. Hal. 23-24

[7] Ilmu Kalam, DR. Abdul Razak, M.Ag & DR.Rosihon Anwar, M.Ag. Hal. 39

[8] Sejarah filsafat Islam (sebuah peta kronologis), Majid Fakhri, hal. 155-156

 

wajibul wujud yaitu hakikat yang harus mempunyai wujud yaitu Tuhan. Wajibul wujud inilah yang mewujudkan mumkinal wujud atau alam semesta ini.[1]

Tuhan tidak tunduk kepada siapa pun; di atas Tuhan tidak ada suatu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dibuat Tuhan. Tuhan bersifat absolut dalam kehendak dan kekuasaan-Nya. Tuhan adalah Maha Pemilik yang bersifat absolut dan berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya di dalam Kerajaan-Nya dan tak seorang pun yang dapat mencela perbuatan-nya.

Ibnu Sina mengatakan sifat wujudlah yang terpenting dan mempunyai kedudukan di atas segala sifat-sifat lainnya. Hakikat dalam faham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedangkan wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat setiap hakikat mempunyai kenyataan di luar akal. [2]

Secara terminologi dapat ditemukan bahwa wujud berarti keberadaan yang mempunyai tingkat abstraksi yang tinggi. Dengan demikian dapat dibedakan menurut dimensi masing-masing, bahwa wajd  sarat dengan pergumulan tasawuf, sementara wujud bertitik tolak dari filsafat yang sering dibahas dalam diskursus kalam dan filsafat islam sebagai wujudiyyah.

Wujud Wajib adalah realitas yang senantiasa berwujud dan ekistensi abadi. Dalam pencapaiannya yang tertinggi pemikiran rasional akhirnya tertunduk kepada kebenaran agama, karena dalam penglihatan fikiran yang tinggi yang nampak pada akhirnya ialah Hakikat Tertinggi kehidupan, yaitu Tuhan, Sang Maujudat Tunggal.[3]

Ibnu Sina menyatakan, “Sebab adalah sesuatu yang meniscayakan sesuatu yang lain. Dan akibat itu mesti aktual karena keaktualan sebabnya. Ibnu Sina dalam kitab “al-Isyarat wa at-Tanbihat” menjabarkan argumen imkan dan wujub untuk membuktikan eksistensi Tuhan, menyatakan, “Realitas wujud adalah wujud wajib dan wujud kontingen. Jika realitas wujud itu adalah wujud wajib, maka terbuktilah realitas eksistensi Tuhan. Dan jika realitas wujud itu adalah wujud kontingen, dikarenakan kemustahilan daur dan tasalsul, maka niscaya bergantung kepada wujud wajib.[4] Jadi dalam dua pengandaian itu berakhir pada pembuktian realitas eksistensi Tuhan.

Argumen wujub tidak berpijak pada analisis akal tentang pengertian kuiditas wujud kontingen yang secara esensial meniscayakan kebergantungan kepada sebab, tetapi berpijak pada analisis akal tentang realitas eksistensi eksternal dan wujud hakiki di alam ini. Jadi pengertian keniscayaan murni berasal dan bersumber dari eksistensi eksternal dan wujud hakiki, dan bukan sebuah pengertian yang tak memiliki obyek nyata dan hakiki atau  pengertian yang semata-mata dalam pikiran.

Ibnu sina dalam memaparkan argumen tersebut secara langsung menggunakan obyek eksternal dan eksistensi hakiki dalam proposisi. Dia berkata, “Karena wujud itu mustahil tidak memiliki realitas eksternal dan wujud hakiki, maka yang berwujud hanya dua kemungkinan, yaitu wujud kontingen dan  wujud wajib. Apabila realitas eksistensi eksternal itu adalah wujud kontingen, maka niscaya memerlukan wujud wajib”[5]Atau bisa dikatakan kedua bentuk wujud tersebut berakhir pada pembuktian wajib wujudnya Tuhan. Karena sesuatu yang imkan takkan terjadi kecuali ada sesuatu yang wajib yang menciptakannya atau yang membuatnya ada.

Dalam Al-Najat dinyatakan Ibnu Sina sebagai berikut:”sesuatu ada yang dibutuhkan adalah sesuatu yang masuk akal, bukanlah mustahil. Ada dibutuhkan ini adalah Tuhan Yang Maha Esa. Segala ada yang lain itu adalah mungkin.[6]

Jadi, dari segala yang ada yang pasti dan wajib ada hanyalah Allah/ Tuhan semata, sementara yang lainnya adalah mungkin. Tuhan adalah sebab ynag efficient dari alam, tidak didahului oleh waktu.


[2] Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve

[3] Kumpulan Risalah Ibnu Sina, bab defenisi, hal. 117.

[4] Ibnu Sina, Al-Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 3, hal. 20

[5] Ibid, hal. 18.

[6] Filsafat Ketuhanan, DR.H.Hamzah Ya`kub.hal.64


Tuhan dalam kehidupan manusia dipandang sebagai sesuatu yang sacral atau yang kudus. [1] Tak hanya dalam agama Islam, bahkan dalam agama Yahudi pun Tuhan dipandang sebagai sesuatu yang sangat fascinosum atau sangat mempesona dan tremendum[2]. Maka disini akan dipaparkan pendapat mengenai keesaan Tuhan menurut 2 filosof terkenal yanitu, Al-Farabi dan Ibn Taymiyya

.

Keesaan Tuhan menurut Al-Farabi

Hakikat keesaan Tuhan menurut Al-Farabi sempurna, maksudnya adalah Yang ada tanpa sebab, Karena jika Ia bersebab, maka Ia tidak smpurna dan tergantung pada sesuatu yang menyebabkannya itu.Ia wujud yang paling dahulu dan mulia., karena itu Tuhan wujud zat yang Azali. Zat Nya sendiri sudah menjadi cukup untuk wujudnya sendiri.

Karena kesempurnaan itu, maka tidak ada yang lain yang lebih sempurna dibandingkan Dia, Iamenyendiri dalam kesempurnaannya.[3]

Jika ada dua, maka ia tidak akan sama sempurna karena nilai sempurna hanya pada satu. Jika Tuhan ada dua, maka Ia saling melengkapi, dan jika saling melengkapi, maka ia akan sama seperti makhluknya, Ia tidak dapat berdiri sendiri. Karena Tuhan yang Esa tidak tergantung dengan yang lain, jadi tidak perlu ada dua Tuhan, karena Ia sempurna. Jika ada dua berarti Tuhan bergantung dengan Tuhan yang lainnya, hampir mirip dengan kegiatan manusia yang saling bergantungan karena manusia banyak kekurangan, maka ia harus berbaur, hidup dan bergantung pada orang lain. Jika Tuhan seperti itu, maka apa bedanya dengan manusia?. Begitulah pendapat saya untuk mengomentari ini.

Dalam pandangan al-Farabi, wjud pertama ini bersifat sempurna, bebas dari segala kekurangan, kesalahan dan tidak terdahului, abadi, imprivation, contingensi dan potensialitas, bukan gabungan dari bentuk/materi dan juga tidak bergantung[4]

Kembali Mustafa berkata dalam bukunya yang sama, bahwa Al-Farabi berpendapat tentang keesaan Tuhan, yaitu,  Tuhan tidak  dapat dibatasi ( definite ) oleh sesuatu penyusunan.[5] Sehingga kita tidak dapat menguraikan sifat-sifatNya. Seperti cahaya yang menyillaukan mata, yang kita tidak dapat menguraikan warna-warna penyusun cahaya tersebut, karena terlalu silau. Juga keterbatasan pengetahuan kita tentang Tuhan, karena mata hati kita tertutup oleh kebendaan/materi, jika kita semakin jauh dari materi yang menutupi mata batin kita, kita akan  semakin dekat dengan Tuhan.

Penegasan keesaan Tuhan menurut al-Farabi dengan 2 rentetan,  yaitu:

  1. Rentetan wujud yang eksistensinya tidak berfisik. Tidak berfisik dan tidak menempati fisik, serta tidak berfisik tetapi bertempat pada fisik. ( jiwa, bentuk)
  2. Rentetan wujud yang berfisik, benda-benda langit, unsur yang empat dan sebagainya.

Dimana titik temunya? Al-Farubi mengemukakan, bahwasannya Yang Esa tidak mungkin berhubungan dengan yang tidak esa atau banyak. Itu akan mengakibatkan Tuhan berhubungan dengan yang tidak sempurna dan itu akan menodai keesaan Tuhan.[6]

Al-Farubi dalam buku Musykilah al-Uluhiyyah berkata bahwasannya Tuhan bersifat Esa, suci dari segala sifat kekurangan, dan bebas dari sekutu tuhan yang lain. Dan menurutnya, eksistensi Tuhan adalah Wajib al-Wujud. Jika Tuhan lain yang menyaingi Tuhan yang Satu ini, maka tidak ada dualisme yang tak terealisasikan kecuali dengan membedakan hal tertentu. Dan takkan terrealisasi partisipasi keduanya dalam hal keniscayaan wujud.[7]

 

Keesaan Tuhan menurut Al-Ghozali

Al-Ghozali terkenal dengan paham yang sangat melawan segala sesuatu yang berbau syirik atau bertentangan dengan Islam, juga mengkritik keras pemahaman yang tidak sesuai dengan Qur`an dan Hadits, serta ajarannyapun banyak diterapkan dan dipahami oleh manusia.

Al-Ghozali berpikir bahwasannya Tuhan itu wajibul Wujud, yang mana akan dapat kita rasakan kehadirannya jika kita benar-benar dapat mengetahui sebenarnya /hakikat dari diri kita. [8]  Bukan berarti menjadi satu, tetapi lebih menghadirkan sifat-sifat Tuhan, atau berusaha  menerapkan sifat-sifat Tuhan kedalam diri kita. Misalnya, Ar-Rohman, Ar-Rohiim, berarti kita berusaha menjadi penyayang, sehingga dengan cara seperti ini kita mendekatkan diri kepada Sang Kholiq, dan merasakan Sifat-Nya ada dalam diri kita

Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk. Mencapai Allah itu mampu menumbuhkan sifat-sifat yang mirip dengan sifat-sifat Allah yang ada didalam dirinya. [9]

Diketahui eksistensinya dengan akal, terlihat zat-Nya dengan matahati sebagai kenikmatan dari-Nya, kasih sayang bagi orang-orang yang berbuat baik di negeri keabadian, dan penyempuurnaan dari-Nya bagi kenikmatan yang memandangNya yang Mulia.

Adapun corak tasawwuf yang dihadirkan oleh Al-Ghazali adalah Tasawwuf sunni, yaitu pemikiran dan ajaran Tasawuf yang lebih mengedepankan dhohir dari al-Qur’an dan Hadist dengan membatasi dan memberikan aturan-aturan yang ketat terhadap pengunaan ma’na-ma’na alegoris, serta menyatukan antara ajaran Islam yang bersifat eksternal dengan ajaran internal.[10]

Selanjutnya Al-Ghozali membagi tauhid menjadi empat tingkatan :

  1. Tauhid orang munafik yakni, mengucapkan LailaahaIlallah dengan lisan, tetapi hatinya lalai terhadap makna kalimat tauhid yang diucapkannya itu.
  2. Hatinya membenarkan ucapan lisan, dan inilah Tauhid mayoritas Umat Islam.
  3. Sesungguhnya menyaksikan apa-apa yang diucapkan dan dibenarkan oleh hatinya dengan jalan kasyf melalui Nur al-Haq, dan ini lebih dekat daripada Muqorrobin
  4. Seseorang tidak melihat dalam kewujudan ini kecuali Yang Esa. Dan ini derajat Musyahadah shiddiq

[2] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, hal. 103

[3] Filsafat Islam, Drs.H.A.Mustofa. Hal. 135

[4] Sejarah filsafat Islam (sebuah peta kronologis), Majid Fakhri, hal. 48

[5] Filsafat Islam, Drs.H.A.Mustofa. Hal. 135

[6] Filsafat Islam, Dr.Hasyimsyahh Nasution,MA, hal.38

[7] Muhammad Gholab, Musykilah al-Uluhiyyah, Dar Ihya` al-Kutub al-`Arabiyyah, Kairo, 1951, hal. 50-56.

[8] Etika Al-Ghozali, Etika Majemuk di Dalam Islam, Kamil, Ph.D, M. Abul Quasem,MA.hal. 3

[9] Mutiara Ihya` `Ulumuddin, Al-Ghazali, hal. 40