ALIRAN KRISTEN LIBERAL DALAM PEMIKIRAN RUDOLF BULTMANN

Posted: April 12, 2012 in cogito ergo sum


PENDAHULUAN

Hubungan antara ilmu dan agama, atau antara akal dan iman, sepanjang sejarah Teologi terus-menerus di perdebatkan. Pada abad pertengahan, teologi khusus mengalami persaingan dari ilmu filsafat. Akan tetapi pada abad ke 19 terlihat adanya perkembangan beberapa cabang ilmu baru, khususnya ilmu alam, juga sosiologi dan sejarah. Semua ilmu ini juga menumbulkan persoalan yang sulit untuk teologi.

Ilmu Arkeologi, atau penggalian purbakala, membuktikan bahwa kebudayaan Yahudi, tempat kelahiran perjanjian lama, Taurat Nabi Musa, yang diduga diwahyukan disekitar 1200 tahun SM, ternyata sudah terdapat dan I kembangkan lebih awal dalam kebudayaan Akad (Sekarang di Negara Iraq). Begitu juga, dari ilmu sastra, ilmu sejarah, psikologi dan Sosiologi, timbul persoalan-persoalan yang sulit dijawab oleh ilmu agama. Ilmu-ilmubaritersebut merupakan tantangan bagi ilmu Agama dan untuk sebagian belum dijawab tuntas sampai sekarang.

Reaksi ilmu agama dan Teologi terhadap tantangan ini bermacam-macam. Pada Fakultas Teologi, baik Protestan maupun Katolik, di buka mata pelajaran baru, Apologetika atau pembelaan agama terhadap serangan ilmu modern. Mata pelajaran ini mestinya bersifat identik dengan Dakwah terhadap orang Modern, tetapi titik tolaknya sering agak negative. Injil secara harfiyah berarti “ Kabar Baik “, tetapi kabar baik itu sudah menjadi suatu ajaran yang mempunyai kedudukan yang lemah dan harus di bela terhadap musuhnya!

Pembelaa agama dalam mata pelajaran Apologetika memakai beberapa metodik. Khusus orang Katholik masih sering memakai metodik Spekulatif, seperti di pakai dalam Filsafat. Persoalan yang paling seringdibicarakan disini adalah Mukjizat. Persoalan ini dalam Kristen  lebih sering di perdebatkan dari pada dalam umat Islam, Karena baik Kitab Perjanjian Lama maupun Kitab Injil memuat jauh lebih banyak ceritera mukjizat dari pada Kitab suci Al-Qur`an. Oleh karena itu diskusi antara ilmu dan iman dalam umat Kristen khusus terpusat pada problematika Mukjizat.

Disini timbul beberapa pendapat ada yang mengatakan, bahwa agama memiliki ajaran yang juga bisa ditemukan dengan akal. Menerima bagian ini tidak terlalu sukar. Tetapi ada bagian yang sukar diterima akal itu ( Khususnya Mukjizat ). Kriterium yang memisahkan antara orang yang beriman dan tidak beriman terletak disini. Menurut pendapat sebagian orang : Orang yang beriman bersedia menerima ukjizat yang sukar masuk akal. Dengan demikian beriman mempunyai pengerrtian “menerima kebenaran yang sukar atau sama sekali tidak bisa ditemukan akal manusia”.

Pendekatan kedua hendak mnegurangi kepentingan mukjzat dalam agama. Demikianlah Von Hornack mengatakan, bahwa Mukjizat hanya merupakan unsure kebudayaan kuno dan tidak tergolong inti Ajaran Yesus. Dalam Injil Yohanes dipakai istilah  untuk mukjizat. Jelaslah bahwa mukjizat disini berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi orang yang membaca Injil. Kalau zaman sudah berubah dan petunjuk jalan ini sudah tidak berfungsi lagi, maka sebaiknya diganti dengan alat penolong yang lain.

Kelompok ketiga mengusahakan mencari Bukti bahwa masing-masing mukjizat itu bisa diterima menurut akal dan ilmu modern. Begitulah, ada yang hendak membuktikan, dari ilmu Biologi, bahwa wanita bisa melahirkn anak tanpa pergaulan dengan laki-laki ( walaupun jarang sekali terjadi ). Laut yang kering pada zaman Nabi Musa merupakan gejala alam yang  kadang-kadang terjadi disana kalau penggantian atau perubahan arus angin. Dikatakan juga, bahwa 6 hari masa penciptaan dunia harus ditafsirkan sebagai 6 fase dalam Evolusi. Kelompok ketiga ini mencari Harmonisasi antara ilmu modern dan Iman. Dalam diskusi ini Rudolf Bultmann masuk kelompok keduayang juga di sebut kelompok, yaitu kelompok yang sama sekali tidak mau menerima Mukjizat. Bultmann disini mengambil posisi yang sangat Ekstrim. Sebagai orang yang menerim warisan dari tradisi rasional dan liberal abad ke 19, dia menolak bahwa mukjizat mempunyai Relevansi untuk agama. Semua Mukjizat harus dibuang saja dari kitab Agama! Tetapi, pada saat yang sama ia juga memiliki sifat yang anti Rasional : Agama sama sekali tidak bisa dicocokkan dengan  akal dan kemauan manusia. Dari dirinya sendiri manusia sama sekali tidak mampu mencapai iman ( karena memang bertentangan dengan tabiatnya ); hanya rahmat dan karunia Tuhan yang bisa memberikan iman kepada manusia. Akan tetapi sebelum iman yang sempurna ini bisa diterima oleh manusia, harus dihilangkan dulu suatu salah paham, yaitu bahwa Iman berarti:”Menerima kebenaran tentang suatu peristiwa yang aneh-aneh dan kejadian yang bertentangan dengan akal” . Menurut Bultmann mukjizat sama sekali tidak merupakan inti sari agama, bahkan orang yang dengan penuh keyakinan percaya kepada Mukjizat, hanmya menerima sebuah karikatur agama saja.


1) Stephen Neill, The Interpretation of the New Tastament, hal.313-324

Rudolf Bultmann (1884) dan Riwayat hidupnya

 Rudolf Bultmann lahir pada tahun 1884 di desa Wiefelstade, Jerman. Ayahnya seorang pendeta, neneknya seorang pendeta Luteran. Sesudah selesai dari Sekolah menengah, ia meneruskan sekolahnya ke Universitas Tubingensampai tingkat sarjana Muda. Sesuai dengan system umum di Jerman, dia mencari tingkat sarjana lengkap di beberapa Universitas lain ( Universitas di Jerman menekankan mahasiswa harus belajar di beberapa Universitas bukan dari satu Universitas ). Selesai Kuliah ia langsung daftar Dosen di Universitas Marburg. Hal ini teerjadio pada tahun 1922 pada usianya yang ke 28. dia tidak pernah praktek sebagai seorang pastor, dan kegiatan Theologisnya hanya terbatas pada Ruang Kuliah, kamar Study dan pergaulan dalam akademis. Antara tahun 1922-1928 dia bergaul sangat Intensif dengan Marthin Heidger, tokoh Filsafat Eksistensialisme, yang pada saat itu tengah mempersiapkan karya besarnya, Sein Und Zeit.

Dari Tahun 1916 – 1921 Bultmann mengajara di Universitas lain akan tetapi dari tahun 1921 sampai akhir hidupnya ia mengajar diMarburg.

Sebagai dosen ia memegang tugas pokok ia sebagai Pengajar mata pelajaran Perjanjian Baru. Dia terkenal sebagai ahli bahasa dan kebudayaan Yunani, ( Perjanjian Baru tidak di susun dengan bahasa Arame, bahasa yang dipakai Yesus sendiri, tetapi seluruhnya disusun dalam bahasa Yunani, bahasa Internasional Orang Eropa pada saat itu ). Bultmann tidak hanya menguasai seluruh sastra Yunani di bidang agama dari abad ke 5 SM, tetapi betul-betul secara menyeluruh : kesenian, Ekonomi, politik sampai dengan Diskusi tentang pakaian mereka. Macam-macam pikiran dalam dunia dinamis itu, semuanya, diselidikinya, dan dia menulis beberapa karangan tentang latar belakang kebudayaan untuk tafsir Injil.

Menurut Bultmann umat Kristen merupakan suatu umat yang sinkritis, seperti kebanyakan umat dan sekte keagamaan yang muncul dalam kerajaan Rumawi, yang tetap di dominasi oleh kebudayaan Yunani atau Helenis. Unsur-unsur dari Sinkretisme ini adalah :

  1. Perkembangan Yahudi pada Zaman itu
  2. Aliran-aliran kebudayaan Yahudi

Bangsa Rumawi memang menguasai dunia ini secara politis, tetapi kebudayaan Yunani tetap Dominan di sekitar laut Tengah itu.

Dalam uraiannya Bultmann sering menekankan pengaruh Hellenis ini, yang masuk kedalam ajaran Yesus sesudah umat Yesus berkembang keluar daerah Palestina.

Tentu saja teori Bultmann tentang perbedaan yang agak mendalam antara Jiwa Yahudi dan Jiwa Yunani akhirnya menemukan koreksi yang agak mendalam sejak penemuan naskah-naskah kuno di lembahQumran. Naskah-naskah itu yang ditemukan pada akhir tahun 1940-an dan baru diselidiki pada tahun 1950-an, berasal dari periode kurang lebih 100 tahun sebelum lahirnya Yesus. Dari naskah ini jelaslah, bahwa Sinkritisme yang di sebut oleh Bultmann tidak muncul sesudah wafatnya Yesus, tetapi, sudah lama sebelum ia lahir. Dalam dua abad SM telah terjadi saling mempengaruhi antara dunia kebudayaan Yunani, pemikiran Parsi dan Yahudi. Sebenarnya hubungan antara dunia parsi dan Yahudi sudah akrab sekali sejak negara Palestina mengalami Penaklukkan oleh Persi/Irak, yang pada waktu itu disebut Babylonia dan yang mengasingkan sekitar 25 % penduduknya dari 586-539 SM.

Dengan begitu sekarang tidak bisa dipastikan lagi apakah kombinasi ide-ide Yunani dan Parsi/Yahudi, yang terdapat dalam agama Kristen merupakan kombinasi yang sudah ‘beres’ sebelum Yesus lahir dan olehnya diambil alih begitu saja dari kumpulan hikmah dan ajaran Yahudi pada zamannya, atau apakah kombinasi itu merupakan ciptaan generasi-generasi Kristen pertama. Yang sering menjadi perdebatan disini adalah perdebatan Injil Yohanes :

Pada mulanya, sebelum dunia dijadikan

Sabda sudah ada

Sabda ada bersama Allah

Dan Sabda sama dengan Allah

Sejak semula ia bersama dengan Allah

Segala dijadikan melalui dia,

Dan dari segala yang ada

Tak satupun dijadikan tanpa dia.

Sabda itu sumber hidup

Dan hidup memberi terang kepada manusia

Kata yang disini diterjemahkan dengan “sabda” ( kadang-kadang juga dengan “Firman” ), dalam bahasa Yunani berbunyi Logos dan merupakan suatu istilah Filsafat Hellenis yang penting sekali. Sesudah penemuan diQumran, tidak lagi difikirkan bahwa ayat-ayat Injil diatas menunjukkan Emanasi pertama dari sekian banyak emanasi.

Sebaliknya, diduga istilah Logos tersebut merupakan penyesuaian dunia Pemikiran Hellenis kepada istilah Hikmah  dalam sastra Yahudi sejak dua abad SM dan juga kepada pemikiran Parsi. Naskah-naskah Qumran memberikan cukup banyak alas an untuk menduga bahwa adaptasi antara Yahudi dan Hellenis sudah terjadi sebelum Yesus lahir.1)

 Usul Demitologisasi

Pada tahun 1941 Rudolf Bultmann keluar dari bidang ilmu sejarah dan ilmu tafsir, yang agak teknis, dan mengemukakan suatu teori yang lebih umum, yang bersifat dasar untuk ilmu tafsir, malah mendasar untuk seluruh Teologi.

Cukup banyak orang menyesalkan, karena usul itu di kemuakkannya pada saat yang kurang strategis : sebagian Gerehja di Jerman sudah terlalu berkompromi pada polotik Hitler, yang menghasilkan perang dunia ke-2. apakah tidak ada persoalan yang lebih konkrit dan praktis selain mempersoalkan Perang Dunia ke-2 ( 1939-1945 ) itu ?

Lepas dari itu marilah kita melihat lebih dekat tentang usul Demitologisasi ini. Bultmann berpendapat, bahwa manusia modern pada umumnya sudah menerima hukum alam sebagai hukum yang berlaku secara Universal. Campurtangan dari dunia luar ini, jadi campurtangan dunia adikodrati dalam dunia manusia, seperti konsep mengenai mukjizat, tidak lagi dapat diterima manusia modern. Boultmann ikut menolak kemungkinan ini.

Kalau undang-undang di dunia ini di ganti dengan hukum yang berasal dari campurtangan dunia adikodrati, maka akan timbul konsep mengenai Tuhan sebagai hal atau pribadi yang sama dengan apa yang di temukan di dunia ini. Cuma wilayahnya pada umumnya di luar dunia ini ! oleh karena itu, Bultmann menyetujui pendapat bahwa orang Kristen tidak perlu percaya  kelahiran Yesus dari perawan Maria, kepada Trinitas, kepada Yesus yang bisa berjalan diatas laut, malah yang bangkit sendiri dari mati

Disini, Bultmann jauh lebih radikal lagi dari Van Harnackyang hanya merupakan bahwa Mukjizat tidak merupakan unsur  yang penting dalam agama Kristen, tetapi hanya merupakan Unsur kebudayaan kulitnya saja, dan bukan unsur  yang pokok. Maka, pendapat Bultmann lebih keras, : kalau orang Kristen masih menganggap dunia adikodrati bisa campurtangan dari dunia ini, kalau Tuhan masih dianggap sebagai saingan manusia, maka pemikiran Tuhan Jauh dari sempurna. Kepercayaan terhadap mukjizat menghindarkan kita untuk mencapai konsep Tuhan yang sebenarnya. Tuhan mustahil merupakan objek yang bisa dilihat dalam dunia ini, dan percaya kepada mukjizat merupakan mengobjekkan penguasa adikodrati ini. Oleh karena itu ceritera tentang mukjizat harus diberi pengertian yang subjektif saja. Pada hari paskah mungkin atau malah tidak terjadi apapun dengan mayat Yesus, tetapi terjadi perubahan yang besar dalam jiwa murid. Sebelumnya, mereka kecewa dengan hukuman dan penyaliban Yesus, dan mereka takut aksi polisi Yahudi akan di teruskan sehingga kemudian mereka juga akan ditahan. Pada hari paskah, tidak terjadi kebangkitan Yesus tetapi kebangkitan semangat para murid Yesus, mereka menyadari, bahwa kabar baik dari Yesus tetap berlaku dan tidak hilang bersama dengan meninggalnya Yesus.

Begitu pula dengan ajaran mengenai inkarnasi. Ajaran ini tidak melaporkan suatu peristiwa yang + 1980 tahun yang lalu, tetapi dimulai dari zaman itudan sejak waktu itu terjadi berulang-ulang kali  di dunia ini, yaitu kabar baik tentang sabda Tuhan  di dalam dunia konkrit, sebagai panggilan konkrot terhadap diri kita sendiri. Dengan begitu orang yang berpandangan kondisional mengenai ajaran inkarnasi ini, memiliki wawasan yang terbatas tentang ajaran inkarnasi ini, yang pada dasarnya merupakan suatu peristiwa yang tidak terbatas terhadap satu saat saja.

Teologika Dialektis

Ahli teologi ternama Karl Barth, pernah mengarang suatu tinjauan dengan judul : “Rudolf Bultmann ein Versuch ihn zu versstehen” ( Rudolf Boulmann, suatu usaha untuk memahaminya ). Dalam karangan ini Karl Barth mengatakan, bahwa dia tidak tahu dengan pasti apakah dia memahami Bultmann dengan baik. Hal yang seperti ini tentu sering terjadi dalam hal akademis Jerman dibanding dengan dunia Anglosaks dimana para Sarjana lebih bersedia menulis karya yang mudah dan jelas bisa difahami.

Jelaslah, bahwa Bultmann tidak sepenuhnya mengikuti aliran rasionalis, walaupun dia sebagai ahli sejarah dan ahli Perjanjian Baru tidak bisa juga lepas dari pendekatan Histiros-Kritis. Oleh karena itu ia tidak berhasi mengemukakan pendapat secara Harmonis.

Bersamaan dengan Karl Barth, Boultmann juga mengikuti pendapat Rudolf Otto, yang menciptakan suatu nama baru untuk Tuhan, yaitu Ganz Andere : yang-lain-secara-muthlak. Tuhan tidak merupakan prosespsikologis ataupun sosiologis dalam diri manusia, bahkan wujud tuhan tidak bisa diwujudkan oleh manusia. Tuhan ada. Begitu permulaan Teologi. Manusia adalah berdosa dan tidak bisa mencapai Tuhannya. Tuhan inilah yang mengambil inisiatif dan  mengirimkan Firmannya kepada manusia. Manusia bisa memberikan Responya yang Negatif atau yang positif, semua  pergaulan antara manusia dengan tuhan berjalan melalui dialog, bersifat aksi dan reaksi. Aksi pertama tentu saja tidak berasal dari manusia, karena Inisiatif secara penuh terletak pada Tuhannya. Memnag saya menyadari bahwasannya saya disini memakai bahan mitologi lagi, tetapi saya yakin bahwa disini diberikan suatu uraian yang sesuai dengan pemikiran Bultmann sendiri. Memang dia tidak memakai istilah aksi-reaksi ini, tetapi menggunaka istilah Ereignis  atau peristiwa. Firman tuhan bukan merupakan sesuatu yang Obyektif  di dunia ini. Firman adalah peristiwa pemanggilan konkrit kepada saya tentang Tuhan. Firman itu memanggil, agar saya bersedia menerima, bahwa tuhan hendak bertindak dengan saya.

Kata Ereignis  ini merupakan satu dari sejumlah istilah yang diambil Bultmann dari Filsafat Martin Heidegger, temannya diMarburg. Menurut Burgmann memang semua istilah yang bersifat mitologi dalam Bijbel, harus mengalami demotologisasi dulu dan baru kemudian diberi Reinterpretasidengan pertolongan filsafat Eksistensial Heidegger.

Disini pemikiran Bultmann mengalami kelemahan. Cukup banyak para filsafat yang menghargai Martin Heidegger sebagai pemikir yang mendalam dan original. Tetapi cukup banyak pula yang menganggap sebagai ahli filsafat yang menulis dengan cara yang terlalu kabur, kurang jelas, lebih bersifat penyair dari pada pemikir Ilmiah. Oleh karena itu murid-murid Heidegger juga  mempunyai macam-macam interpretasi. Hiedegger juga merupakan seorang pemikir yang agak pesimis, yang khusus menekankan segi-segi negative dalam kehidupan manusia, segi yang penuh dengan duka cita dan rasa takut, istilah-istilah seperti rasa takut mati, terbuang, dll. Mengambil kedudukan yang dominan dalam sifatnya, sedangkan kenyataan seperti cinta, harapan dan kaih sayang, jarang dibicarakan didalamnya.

Kesulitan lain masih diakibatkan oleh kenyataan, bahwa Bultmann terkadang masih mengambil istilah dari filsafat-filsafat Heideggerdalam arti yang berbeda dari pengertian dalam system filsafat Sang Guru, Filsafat sendiri.

Bultmann Mengenai Yesus sebagai “Anak Allah”

Walaupun Bultmann dalam karyanya yang bersifat lebih umum dan filsafat menunjukkan kecenderungannya kearah teologi Dialektis, disini ia dimasukkan dalam bab mengenai teologi Liberal, karena khusus dalam study tafsir yang lebih teknis dia mengikuti garis besar madzhab Liberal. Sebagai contoh disini dikemukakan pendapatannya terhadap Yesus sebagai Anak Allah. Dalam bukunya Theology of the New testament, Bultmann masih mengikuti metode yang diikuti oleh Baur dan madzhabTubingen. Perjanjian batu dianggap sebagai hasil refleksi generasi pertama dan generasi penerus murid-murid Yesus. Disana dia membedakan antara gereja yang paling awal, yang Hellenis, paulus dan Yohanes, masing-masing memiliki pengertian dan pandangan sendiri! Dalam gereja yang paling awal Yesus sudah di beri gelar sebagai Anak Allah, akan tetapi pengertian ini agak   berubah drastis :

“ Kita harus mengakui bahwa umat Kristen yang paling awal sudh memberikan gelar Anak Allah kepada Yesus, tetapi pada masa itu istilah ini masih erat hubungannya dengan pemikiran sekitar hari kiamat. Anak Allah adalah gelar untuk  “wujud” yang mempersiapkan hari Kiamat. Tetapi ketika kabar tentang Yesus di bawa kepada bangsa bukan Yahudi oleh kaum Hellenis, maka, pengertian tersebut memiliki arti yang lain. Mulai sekarang ini istilah ini di pakai untuk menunjukkan Yesus sebagai wujud Ilahi, yang secara radikal dipisahkan dari dunia manusiawi.  Disini diajukan syarat, bahwa Kristus berasal dari wilayah Ilahi dan penuh dengan kuasa Ilahi juga.

Kita memiliki dua petunjuk bahwa penginjil Hellenis menerima gelar Anak Allah ini dalam arti yang begini : dalam kebudayaan Hellenis peristiwa keselamatan justru terdiri dari paradoks, bahwa suatu wujud ilahi muncul dan menderita seperti manusia (bandingkanlah juga Fil. 6-11). Dengan begitu sudah tidak ada lagi kesulitan besar, yang dikemukakan oleh umat Kristen paling awal, yaitu pertanyaan : “bagaimana mungkin juru selamat kita harus mengalami penderitaan?” Untuk kebudayaan dalam pemikiran keagamaan. Petunjuk kedua diambil dari problematika baru, yang muncul dalam gereja Hellenis. Justru dalam periode ini harus dibela bahwa Yesus betul-betul merupakan manusia, karena sekte-sekte keagamaan Hellenis pada umumnya tidak mau menerima seorang juru selamat yang (juga) betul-betul bersifat manusia. Dalam fase Hellenis ini tentu istilah Anak Allah mempunyai fungsi untuk menunjukkan bahwa Yesus bersifat ilahi, di samping memberikan indikasi bahwa dia masih berada dari Tuhan yang satu dan masih di bawahnya.”

 

  KESIMPULAN

Sebagai ahli sejarah kebudayaan Palestina dan Yunani, Bultmann tentu menghasilkan sejumlah studi yang luas sekali, walaupun sekarang hasil studinya harus dikoreksi lagi akibat penemuan di Qurman atau yang juga disebut “naskah-naskah dari daerah laut Mati” (Dead Seascroll).

Usul demitologisasi juga mempunyai beberapa unsur yang menarik. Dia lebih menyadari daripada sejumlah ahli teologi lain, bahwa ceritera mengenai mujizat bisa merupakan hambatan untuk memahami intisari Kabar Baik yang dibawah oleh Yesus, khususnya untuk manusia dalam abad ke-20 ini. Dalam hal ini dia bertindak sebagai seorang ahli ilmu Apologetika dan hendak membela intisari ajaran. Analisanya tajam, tetapi akibatnya juga sangat radikal : menghapuskan semua fikiran mitologi. Di samping diskusi apakah hal tersebut mungkin dilakukan (Japers membela pendapatnya, bahwa manusia wajib memakai simbolik atau mitos dalam pikirannya tentang Tuhan dan bahwa Bultmann hanya menggantikan bahasa, symbol dan mitos dengan bahasa lain), harus dipersoalan juga apakah mitos kemungkinanbahkan memiliki perananyang positif (di samping segi negative).

Cukup banyak ahli modern yang mempertahankan, bahwa mitos tidak bisa dan tidak boleh ditiadakan. Hanya saja seperti dalam setiap zaman, mitos harus diberikan tafsirnya. Jadi timbul kesan, bahwa tujuan Bultmann, yang diprolakmasikan dengan manifest yang radikal dan bersemangat, barangkali bisa dicapai dengan metodikyang lebih sederhana, yakni dengan teologia biblika, mazhab teologi yang berasal dari tafsiran yang mendalam dan lengkap.

Di bidang teologia dialektis, bultmann tetap dianggap sebagai orang tengah saja, karena dia tetap mau memakai metode historis-historis. Walaupun Bultmann tetap berfikir dalam mazhab liberal, dia toh berpendapat, bahwa Yesus memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada hanya seorang guru yang memberikan ajaran yang bagus dan sempurna. Bagi Bultmann, Yesus merupakan suatu peristiwa, yang pertamakali terjadi melalui Rabbi/Pendeta Yahudi ini. Lewat panggilan gereja peristiwa ini kemudian diulangi sebagai perwujudan Firman Ilahi. Dengan demikian ajaran Yesus mengenai hari kiamat yang dekat itu tidak disingkirkan (seperti terjadi dalam tafsiran Von Harnack), tetapi diberi interpretasi yang baru : saat mutlak, saat yang menentukan isudah sangat dekat dengan manusia, sehingga dia harus siap untuk menemui dan menerima panggilan dari firman Tuhan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s