EKSISTENSI TUHAN MENURUT ALGHOZALI DAN AL-HALLAJ

Posted: April 12, 2012 in biography

 PENDAHULUAN

Tuhan dalam kehidupan manusia dipandang sebagai sesuatu yang sacral atau yang kudus. [1]Tak hanya dalam agama Islam, bahkan dalam agama Yahudi pun Tuhan dipandang sebagai sesuatu yang sangat fascinosum atau sangat mempesona dan tremendum[2].

Tapi tidak menutup setiap orang akan mempunyai sesuatu yang sama dalam benaknya jika ia di ajui pertanyaan yang sama. Begitu pula dalam makalah ini, pembahas menghadirkan sesuatu pemikiran atau pendapat dua orang Sufi besar yang ajaran dan pendapatnya sangat mempengaruhi generasi setelahnya.

Kenapa harus kedua Sufi ini yang dijadikan sebagai sebuah poin yang ingin dihadirkan oleh penulis? Karena keduanya memiliki suatu pemikiran yang sangat mendalam tentang Tuhan dan Eksistensi Tuhan. Karena kecintaannya yang begitu besar terhadap Tuhannya, hingga apapun yang ia lakukan tak lepas dari Tuhan. Tetapi berbeda pemahaman para awam terutama tentang teori kedua sufi tersebut.

Di satu sisi Al-Ghozali terkenal dengan paham yang sangat melawan segala sesuatu yang berbau syirik atau bertentangan dengan Islam, juga mengkritik keras pemahaman yang tidak sesuai dengan Qur`an dan Hadits, serta ajarannyapun banyak diterapkan dan dipahami oleh manusia. Dan disisi lain, Al-Hallaj mempunyai satu poin yang mana tidak semua orang dapat memahaminya, ada yang menganggapnya sesat, tetapi ada pula yang membenarkannya, dan lebih mencari hakikat dari ucapannya. Karena ajarannyapun dan ucapannyapun, sedikit yang mengerti, mungkin zaman dahulu hanyalah murid-muridnya saja.

A.          SEJARAH SINGKAT
1.      

1.      Imam al-Ghazali

Beliau dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Beliau berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi’i. Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Beliau pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 4 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.[3]

2.      Al-Hallaj

Husain ibn Mansur al-Hallaj atau biasa disebut dengan Al-Hallaj adalah salah seorang ulama sufi yang dilahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran Tenggara, pada tanggal 26 Maret 866M. Ia merupakan seorang keturuna Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam. Al-Hallaj merupakan syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: “Akulah Kebenaran”, ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal.[4]

B.           PEMIKIRAN TENTANG EKSISTENSI TUHAN


1.       Pemikiran Imam Al-Ghozali tentang Eksistensi Tuhan

Imam Ghozali berpendapat bahwasannya  barang siapa yang mengetahui dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya. Bukan berarti mengetahui Tuhannya disini adalah mengetahui bentuk secara harfiah dari sosok Tuhan tersebut, tetapi lebih kepada kehadiran rasa ihsan dalam kesehariannya, yaitu dimanapun dia berada ia merasa melihat Tuhannya, atau diamanapun ia berada ia merasa dilihat oleh Tuhannya.

Imam Al Ghozali tentang Eksistensi Allah Swt atau wujudnya Zat Allah Swt dengan methodologi filsafat “tidak ada sesuatupun yang ada kecuali ada yang mengadakan”[5]. Hasyimsyah Nasution berkata dalam bukunya Filsafat Islam, bahwa Al-Ghozali tidak menyetujui pendapat yang menyebutkan bahwasannya Tuhan itu wujudnya sederhana, wujud murni, dan tanpa esensi.[6]

Jadi, Al-Ghozali berpikir bahwasannya Tuhan itu wajibul Wujud, yang mana akan dapat kita rasakan kehadirannya jika kita benar-benar dapat mengetahui sebenarnya /hakikat dari diri kita. Bukan berarti menjadi satu, tetapi lebih menghadirkan sifat-sifat Tuhan, atau berusaha  menerapkan sifat-sifat Tuhan kedalam diri kita. Misalnya, Ar-Rohman, Ar-Rohiim, berarti kita berusaha menjadi penyayang, sehingga dengan cara seperti ini kita mendekatkan diri kepada Sang Kholiq, dan merasakan Sifat-Nya ada dalam diri kita.

Mencapai wujud Allah bukan diartikan AL-Ghozali sebagai penyamaan dengan Allah atau Ittishol atau peleburan diri dengannya (Hulul) atau percampuran hakikat kemanusiaan (Nasut) dengan Hakikat Ilahiyah (Lahut) semuanya ini adalah paham yang sesat. [7]

Peleburan diri Tuhan dengan Hambanya adalah suatu yang mustahil terjadi, karena Tuhan bukanlah manusia itu sendiri, dan jika Tuhan dapat melebur bersama manusia, maka, berapa banyak Tuhan  yang akan ada di dunia ini?. Jika memang wujud Tuhan dapat hadir dalam diri manusia, untuk apalagi adanya sholat, haji, jauh-jauh ke Makkah, sedangkan wujudnya ada di dekat manusia itu sendiri, cukuplah datang kerumahnya, maka sudah hajilah kita. Juga dapat kita berfikir tentang penciptaan, jika sesuatu yang diciptakan itu dapat melebur menjadi satu terhadap ciptaannya, maka apa bedanya dia dengan ciptaannya?. Atau dengan kata lain, jika kita membuat kursi, tidak mungkin kita melebur menjadi satu dengan kursi tersebut.

Bahkan yang lebih benar adalah Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk. Mencapai Allah itu mampu menumbuhkan sifat-sifat yang mirip dengan sifat-sifat Allah yang ada didalam dirinya. [8]

Diketahui eksistensinya dengan akal, terlihat zat-Nya dengan matahati sebagai kenikmatan dari-Nya, kasih sayang bagi orang-orang yang berbuat baik di negeri keabadian, dan penyempuurnaan dari-Nya bagi kenikmatan yang memandangNya yang Mulia.

Adapun corak tasawwuf yang dihadirkan oleh Al-Ghazali adalah Tasawwuf sunni, yaitu pemikiran dan ajaran Tasawuf yang lebih mengedepankan dhohir dari al-Qur’an dan Hadist dengan membatasi dan memberikan aturan-aturan yang ketat terhadap pengunaan ma’na-ma’na alegoris, serta menyatukan antara ajaran Islam yang bersifat eksternal dengan ajaran internal.[9]

2.       Pemikiran Al-Hallaj tentang eksistensi Tuhan

Paham Kesatuan Wujud

Paham ini berisi keyakinan bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan. Penganut paham kesatuan wujud ini mengambil dalil Al Quran yang dianggap mendukung penyatuan antara ruh manusia dengan Ruh Allah dalam penciptaan manusia pertama, Nabi Adam AS: “…Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya[10]

Sehingga ruh manusia dan Ruh Allah dapat dikatakan bersatu dalam sholat karena sholat adalah me-mi’rajkan ruh manusia kepada Ruh Allah Azza wa Jalla . Atas dasar pengaruh ‘penyatuan’ inilah maka kezuhudan dalam sufi dianggap bukan sebagai kewajiban tetapi lebih kepada tuntutan bathin karena hanya dengan meninggalkan/ tidak mementingkan dunia lah kecintaan kepada Allah semakin meningkat yang akan bepengaruh kepada ‘penyatuan’ yang lebih mendalam.

Wahdatul Wujud mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya.[11]

Perseteruan pendapat konsep wahdatul wujud terjadi pada kaum Syi’ah Isma’iliyah pada masa Al Hallaj.  Al Hallaj yang hidup di masa itu, dia mengucapkan kata yang sangat menggemparkan: Ana Al-Haqq berarti Akulah kebenaran.

Dia kemudian dianggap mendukung kaum syi’ah. Hal ini juga berarti permasalahan yang timbul dari perselisihan antara ilmu syariat, ilmu ma’rifat, dan kekuasaan atau politik. Semua yang terjadi adalah karena kesalahan pemahaman.                             Terbunuhnya Al Hallaj bukan karena ucapannya tetapi karena politik. Tetapi merupakan kesalahan Al Hallaj yang mengucapkan dan mengajarkan konsep Wahdatul Wujud (Ana Al-Haqq) kepada murid-muridnya. Bahwa hal tersebut adalah ilmu yang sangat pribadi dan hanya dimengerti oleh orang yang menerimanya. Selain itu, Al Haqq merupakan sifat-sifat Allah.

Wahdatul Wujud mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. [12]

Ia  berkeyakinan bahwa Allah ‘azza wa jalla bisa bertempat/menitis dalam diri manusia -Maha Suci Allah ‘azza wa jalla dari sifat ini, yang karenanya para Ulama memfatwakan kafirnya orang ini dan dia harus dihukum mati, yang kemudian dia dibunuh dan disalib pada tahun 309 H.

Dan di dalam Sya’ir yang dinisbatkan kepadanya dia berkata: “Maha suci (Allah ‘azza wa jalla) yang Nasut (unsur/sifat kemanusiaan)-Nya telah  menampakkan rahasia cahaya Lahut (unsur/sifat ketuhanan)-Nya yang menembus. Lalu Tampaklah Dia dengan jelas pada (diri) makhluk-Nya dalam bentuk seorang yang sedang makan dan sedang minum Hingga (sangat jelas) Dia terlihat oleh makhluk-Nya seperti (jelasnya) pandangan alis mata dengan alis mata” [13]

Dapat kita tarik suatu pengertian bahwa Tampaknya Tuhan ialah secara dzohir jasady. Terlihatnya, benar-benar terlihat nyata dengan panca Indera. Secara jelas, kita tangkap bahwa menurutnya, Tuhan itu terlihat dalam mata kita, terdengar dengan telinga kita. Tuhan dapat makan, minum, berbuat sesuatu dengan jasad orang yang di masukinya.  Dalam pandangan Hallaj hidup kebatinan insan yang suci akan naik tingkat hidupnya dari satu maqam ke maqam lain.[14] Misalnya: muslim, mu’min, salihin, muqarrabin. Karena manusia adalah tiupan ruh lahut sebagaimana firman allah:

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

Kemudian ia menyempurnakannyaa (penciptaan manusia) dan meniupkan ruhNya, serta menjadikan pendengaran, penglihatan, dan perasaan atas kalian, tetapi hanya sedikit yang kalian syukuri [15]

Sehingga ketika mencapai tingkat muqarrabin, menurut dia, sampailah di puncak sehingga bersatu dengan Tuhan. Sifat persatuan itu antara lain diibaratkan bagai persatuan khamar dengan air. Konsep ini bermuara pada Ana al-Haqq, karena kebenaran itu salah satu asma Allah SWT. Al-Haqq sendiri dalam ilmu tasawuf berarti Tuhan. Inilah penggalan syairnya:

‘Telah bercampur roh-Mu dan rohku Laksana bercampurnya khamar dengan air yang jernih

Bila menyentuh akan-Mu sesuatu, tersentuhlah Aku Sebab itu, Engkau adalah Aku, dalam segala hal’.[16]

Memang Al Hallaj meyakini dualisme hakikat ketuhanan dan beranggapan bahwa Al Ilah (Allah ‘azza wa jalla) memiliki dua tabiat yaitu: Al Lahut (unsur/sifat ketuhanan) dan An Nasut (unsur/sifat kemanusiaan/kemakhlukan). [17]

C.          KARYA
1.       Imam Al-Ghozali

Sebenarnya, karya Al-Ghozali mencapai 300 buah[18], dan tidak hanya buku yang membahas tentang tasawwuf, tapi juga tentang teologi dan lain sebagainya, diantaranya :

a.      Teologi

  1. Al-Munqidh min adh-Dhalal
  2. Al-Iqtishad fi al-I`tiqad
  3. Al-Risalah al-Qudsiyyah
  4. Kitab al-Arba’in fi Ushul ad-Din
  5. Mizan al-Amal
  6. Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah
  7. Ihya Ulumuddin
  8. Kimiya as-Sa’adah
  9. Misykah al-Anwar

b.      Tasawuf

c.       Fiqih

  1. Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul

d.      Logika

  1. Mi`yar al-Ilm
  2. al-Qistas al-Mustaqim
  3. Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq [19]
  1. 2.       Al-Hallaj

Kebanyakan Karyanya hanya sebatas Puisi yang ia lontarkan ketika kagum terhadap Tuhan. Tidak tertulis jelas bahwasannya ia membuat suatu buku, ataupun ajarannya di bukukan dalam suatu kitab, tetapi kebanyakan orang menceritakan hanya dari pengalaman hidup  bersama dengan Hallaj.[20]

  1. D.          KESIMPULAN
    1. 1.       Pemikiran Al-Ghozali tentang eksistensi Tuhan

Imam Ghozali berpendapat bahwasannya  barang siapa yang mengetahui dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya. Eksistensi Allah Swt atau wujudnya Zat Allah Swt dengan methodologi filsafat “tidak ada sesuatupun yang ada kecuali ada yang mengadakan. Tuhan itu wajibul Wujud, yang mana akan dapat kita rasakan kehadirannya jika kita benar-benar dapat mengetahui sebenarnya /hakikat dari diri kita. Seseorang yang mencapai Allah itu mapu menumbuhkan sifat-sifat yang mirip dengan sifat-sifat Allah yang ada didalam dirinya. (Wahdatu Syuhud)

  1. 2.       Pemikiran Al-Hallaj tentang eksistensi Tuhan

Allah ‘azza wa jalla bisa bertempat/menitis dalam diri manusia (Wahdatul Wujud)-Maha Suci Allah ‘azza wa jalla dari sifat ini. Tampaklah Dia dengan jelas pada (diri) makhluk-Nya dalam bentuk seorang yang sedang makan dan sedang minum Hingga (sangat jelas) Dia terlihat oleh makhluk-Nya seperti (jelasnya) pandangan alis mata dengan alis mata


[2] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, hal. 103

[3] http://fendra. com/2005/04/13/imam-al-ghozali-abdul-qodir-al-jaelani/trackback

[5] Http://politikdanpemikiran.com/2007/10/slam-dalam-pandangan-imam-akbar.html

[6] Filsafat Ilmu, Dr.HasyimsyahNasution,MA hal: 79

[7] Etika Al-Ghozali, Etika Majemuk di Dalam Islam, Kamil, Ph.D, M.Abul Quasem,MA,

[8] Mutiara Ihya` `Ulumuddin, Al-Ghazali, hal. 40

[10]  Q.S. Ash-Shod,  ayat 72

[11] Mempertajam Mata Bathin dan Indra keenam, Imam Al-Ghozali, Mitrapress, Hal. 273

[12]kitab At Thawasiin,  hal.130

[14] Etika majemuk Ghozali, M. Abul Quasem, M.A, Kamil Ph.D, hal.101

[15] Q.S As-Sajdah Ayat 9

[16] Ibnu Sina, Al-Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 3, hal. 20

6 http://politikdanpemikiran.com/2007/10/slam-dalam-pandangan-imam-akbar.html

7 Dr.Hasyimsyah Nasution, MA, Filsafat Ilmu, hal: 79

[20] ibid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s